Tampilkan postingan dengan label sosial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sosial. Tampilkan semua postingan

Minggu, 27 Desember 2015

Sosiologi pembangunan "ketergantungan indonesia pada tahum 1980"




PELBAGAI KETERGANTUNGAN DI INDONESIA PADA KURUN WAKTU TAHUN 1980 MELALUI KACA MATA ANDRE GUNDER FRANK

Artikel


oleh


Februdi Akbar        (130910302014
  Email                      februdi.akbar1995@gmail.com
 Blog                      februdiakbar.web.unej.ac.id                       
                         


JURUSAN SOSIOLOGI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS JEMBER
2015







Abstrak
Ketergantungan atau dikenal dengan istilah dependence sering kali di simbolkan melalui dunia ke tiga. Ketergantungan merupakan problem yang sering dialami oleh negara ketiga. Sebagai negara ketiga, indonesiapun  ikut tergolong di dalamnya. Indonesia juga tidak bisa terlepas dari yang namanya ketergantungan. Ketergantungan hadir akibat dari model modernisasi yang sampai saat ini dijadikan  penyimbolan dari negara maju. Indonesia yang ingin mengikuti arah dari model modernisasi secara tidak langsung akan melakukan praksis dari model modernisasi. Namun karena penyamaan dari modernisasi tidak didukung dengan SDM dan ketersediaan alat, maka indonesia menjadi ketergantungn terhadap luar negeri. Ketergantungan mulai dari alat teknologi, hutang luar negeri, dan kebutuhan komoditi yang lain. ketergantungan yang dialami di indonesia tidak semata-mata hadir begitu saja pada saat ini. Jika flashback ke belakang sejenak, indonesia mengalamai ketergantungan terhitung dari tahun 1980. Ketergantungan yang di alami oleh indonesia pada kurun waktu 1980 yaitu ketergantungan gula dan juga ketergantungan terhadap hutang luar negeri. Tentu pandangan dari para tokoh pencetus dari teori depedence akan dicoba untuk jadi dasar menganalisis dari ketergantungan indonesia pada tahun 1980 oleh penulis. Tokoh pencetus dari teori dependece yang terkenal yaitu andre gunder frank. Maka hal ini berfungsi untuk mengetahui dasar permasalahan pada tahun 1980 melalui ketergantungan gula dan hutang luar negeri oleh indonesia.
Kata kunci : ketergantungan, tahun 1980, teory dependence



Pendahuluan
Kehidupan dewasa ini seiring dengan kemajuan teknologi sebagai akibat dari perkembangan zaman, hal ini banyak mempengaruhi aspek nilai dari kehidupan masyarakat. Sebagai contoh masyarakat mulai bergerak kearah yang lebih modern dengan ditandai hadirnya beragam alat teknolgi canggih dari segi fungsinya.  [1]Hadirnya Sentuhan teknologi, membantu manusia melalui beragam kemudahan, dapat menghemat tenaga, dapat mempersingkat waktu, dapat mempersempit jarak, dan dapat memastikan hasil yang diinginkan”.
Kemunculan pelbagai macam kebutuhan seperti teknologi informasi, alat transportasi dan kebutuhan-kebutuhan penunjang lainnya bagi masyarakat modern, merupakan sebagai akibat dari konsep model moderenasasi yang telah menjamur kuat dimasyarakat. Modernisasi memaksakan masyarakat dari dunia ketiga untuk mengikuti asusmi dasar dari konsep modern yang di gambarkan oleh negara maju. Tentu hal ini akan sulit di capai untuk negara dunia ketiga. Hal inilah yang menjadi dasar penyebab negara ketiga seperti indonesia terjerumus masuk kelubang ketergantungan. Sejalan dengan itu Hassan SB (2008 : 358) mengatakan [2]“model negara yang paham betul bagaimana cara melakukan modernisasi di negaranya, akhirnya akan meraih kemajuan yang mengagumkan. Satunya model negara terbelakang, dengan memilih modernisasi yang ternyata membawa kemunduran.”
Hadirnya masyarakat modern merupakan akibat dari percepatan perkembangan teknologi yang semakin maju. Tentu perkembangan dari teknologi memunculkan perkembangan dan perubahan. Dimana [3]“ditandai dengan ciri-ciri: semakin mudah, halus, cepat, indah, megah dan canggih. Hal-hal ini dapat nampak pada pembangunan sekarang ini. Peralatan yang semakin baik, gedung-gedung megah pencakar langit dll”.  Namun melalui perkembangan teknologi yang semakin cepat, tentu juga akan menghadirkan dampak negatif dari percepatan teknologi. Salah satunya, akan mengakibatkan psikologi sosial tergangu sebagai akibat dari ketergantungan terhadap barang produksi.  
Lebih jauh lagi,  ketergantungan yang hadir di indonesia sampai saat ini tertuju kepada ketergantungan kebutuhan komoditi. Seperti yang kita ketahui, indonesia yang merupakan negara berbasis pertanian sering kali mengalami pelbagai masalah. mulai dari krisis kebutuhan komoditi seperti gula pada tahun 1980, pangan bahkan sampai persempitan lahan produktif. [4]purwono & heni (2007:3) mengutarakan “sampai saat ini ketergantungan pangan padi masih sangat besar. Dari total kalori yang dikomsumsi oleh masyarakat indonesia hampir 60% dicukupi oleh beras. Kondisi ini sangat tidak menguntungkan bagi pola ketahanan pangan nasional. Penurunan produksi padi akibat gagal panen atau sebab lain akan berpengaruh terhadap kecukupan pangan nasional.” Selanjutnya ketergantungan gula yang disebabkan oleh kegagalan mempertahankan produksi gula pada tahun 1980. [5]“Diawali pada krisis moneter tahun 1998, harga gula mengalami fluktuasi. Karena ketergantungan Indonesia dalam mengimpor gula ke luar negeri, maka harga gula juga disesuaikan dengan harga pasaran diluar negeri, hal ini yang menyebabkan harga gula mengalami fluktuasi”
Pelbagai ketergantungan yang hadir di indonesia tidak hanya menyebar luas akhir-akhir ini saja. Namun ketergantungan tersebut telah dimulai sejak  tahun 1980. Artikel ini sengaja dibuat oleh penulis, bukan hanya sekedar tuntutan untuk syarat kelulusan mata kuliah sosiologi pembangunan. Namun lebih jauh, untuk mengungkap dan mengetahui pelbagai ketergantung yang di alami indonesia pada kurun waktu tahun 1980. Selanjutnya juga bagaimana pandangan dari tokoh seperti andre gunder frank dari pencetus terory dependence menjadi dasar analisa penulis untuk mengorek informasi pelbagai ketergantungan yang menimpa indonesia pada tahun 1980.

Pembahasan
   Modernisasi menjadi arah dari ketergantungan
Modernisasi merupakan sebuah istilah yang sering digunakan orang  untuk menilai suatu negara dikatakan sebagai negara maju. Modernisasi yang seiring dengan perkembangan zaman sering disimbolkan melalui negara maju melalui aspek-aspek kehidupan, kerja, produksi, budaya dll. tentu jika berbicara tentang  modernisasi sedikit banyak akan membahas anggapan tentang modern. Tentu anggapan tersebut  harus berlandaskan pada teori modernisasi. Sebelum membahas tentang teori modernisasi. Hadirnya dari modernisasi juga berdampak terhadap hadirnya westernisasi, bagja waluya (2007:95) mengatakan “[6]westernisasi sendiri memiliki makna meniru perilaku dan tindakan orang barat yang dianggap modern dan selanjutnya melupakan budaya sendiri”. Hadirnya moderinisasi di negara berkembang atau negara dunia ketiga seperti halnya indonesia. Seolah  memaksakan masyarakat untuk dapat terarah ke model  modern melalui segi tindakan, gaya, dan perilaku menyamai orang barat.
Tentu hal tersebut akan berdampak buruk, karena hadirnya westernisasi pada masyarakat dunia ketiga akan membuat kesadaran pada aktivitas perilaku dan tindakan masyarakat di negara dunia ketiga berusaha menyamai orang barat. Tentunya jika tindakan dan perilaku tersebut berusaha menyamai orang barat maka aktivitas dari segi ekonomi misalnya, akan hanya membuat ketergantungan terhadap produk dari yang dihasilkan orang barat. Karena untuk menyamai dengan orang barat maka, akan juga menyamai dari aspek kehidupan  yang digunakan orang barat seperti baju, teknologi, perilaku dll.
Setelah berbicara westernisasi sebagai akibat dari modernisasi, maka posisi dari modernisasi melalui teorinya yaitu teori modernisasi harus mampu menjawab dari ketergantungan. Maka definisi dari teori modernisasi harus dapat berkorelasi dengan keaadan lokal di indonesia.  Arif budiman (2006 : 9) menyangkal bahwa Teori modernisasi [7] “yakni teori yang mengatakan bahwa kemiskinan suatu negara berpangkal pada persoalan internal negara bersangkutan, dan karenanya solusi yang diperlukan adalah memodernkan negara tersebut menjadi pilihan utama untuk menjelaskan dan memproyeksikan pembangunan negara.” Menurutnya [8]kemiskinanan ataupun ketergantungan adalah akibat dari bekerjanya kekuatan-kekuatan luar yang menyebabkan negara gagal melalui pembangunannya.
Selanjutnya arif budiman berbicara tentang inti dari teori ketergantungan yang pada taraf ini berseinergi dengan keadaan di indonesia. [9]“Menurutnya teori ketergantungan adalah bahwa sebab utama kemiskinan dan kegagalan pembangunan di negara-negara dunia ketiga bukan karena keterlambatan modernisasi, tapi justru karena adanya campur tangan kapitalis yang dapat menghambat dan menghalangi perkembangan negara itu”. pernyataan arif budiman ini secara ekplisit menyadarkan kita bahwa ketergantungan yang sampai detik dialami oleh indonesia bukan terjadi melalui masalah internal. melainkan adanya campur tangan orang luar (kapitalis) yang membuat bangsa mengalami kemunduran dan tidak berkembang dan hanya mengandalkan orang luar. Maka  hal inilah yang mengakibatkan ketergantungan indonesia terhadap orang luar (kapitalis)
           
               Ketergatungan Yang Terjadi Di Indonesia Pada Kurun Waktu 1980
Ketergantungan yang kerap kali hadir di indonesia sampai saat ini tetap menjalar. Mulai dari ketergantungan teknologi dan kebutuhan komoditi. Ketergantungan yang hadir di dunia ketiga, seperti yang diungkap oleh arif budiman memilki dampak yang buruk bagi perkembangan dan kemajuan negara. Tuturnya,  ikut campurnya peran kapitalis yang membuat negara dunia ketiga seperti halnya indonesia yang  membuat ketergantungan itu menjalar sampai saat ini. Indonesia yang mulai terjerumus kedalam jurang ketergantungan hadir kurang lebih pada kurun waktu 1980.
Ketergantungan yang di alami di indonesia pada kurun waktu 1980 yaitu ada pada ketergantungan gula dan hutang luar negeri. Seperti yang di kutip penulis,  Adwin Surya Atmadja (2000 : 8 ) mengungkapkan [10]Karena semakin pesatnya pembangunan dan terbatasnya kemampuan pemerintah untuk secara terus menerus menjadi penggerak utama pembangunan nasional, terutama sejak krisis harga minyak dunia awal tahun 1980-an, menyebabkan pemerintah harus mengambil langkah-langkah deregulasi di berbagai sektor pembangunan Karena semakin pesatnya pembangunan dan terbatasnya kemampuan pemerintah untuk secara terus menerus menjadi penggerak utama pembangunan nasional, terutama sejak krisis harga minyak dunia awal tahun 1980-an, menyebabkan pemerintah harus mengambil langkah-langkah deregulasi di berbagai sektor pembangunan Dengan semakin besarnya minat investasi swasta, tapi tanpa didukung oleh sumber-sumber dana investasi di dalam negeri yang memadai, telah mendorong pihak swasta melakukan pinjaman ke luar negeri, baik dalam bentuk pinjaman komersial maupun investasi”. Tentu hadirnya ketergantungan terhadap modal yang diberikan oleh negara lain kepada indonesia Secara langsung dapat membantu  indonesia.  Namun pada jangaka panjang hal ini hanya akan membuat negara indonesia semakin ketergantungan secara berkelanjutan terhadap negara pemberi modal.
Selanjutnya ketergantungan gula yang dihadapi indonesia pada kurun waktu tahun 1980. Ketergantungan komoditi ini di awali pada tahun 1998, meskipun pada kurun waktu 1980 pengahasilan gula mengalami peningkatan selama kurang lebih  9  tahun. Namun pada sekitar tahun 1998 barulah mulai ketergantungan terjadi. [11] “Diawali pada krisis moneter tahun 1998, harga gula mengalami fluktuasi. Karena ketergantungan Indonesia dalam mengimpor gula ke luar negeri, maka harga gula juga disesuaikan dengan harga pasaran diluar negeri, hal ini yang menyebabkan harga gula mengalami fluktuasi” . tentu permasalah ketergantungan pada dasarnya di mulai dari kesalahan pada tahun 1980. Dimana pada tahun tersebut indonesia kurang mampu mempertahankan ketahanan komoditi gula. yang selanjutnya komoditi gula kandas dan mengalami ketergantungan pada kurun tahun 1998.
  

   .Andre Gunder Frank Memandang Problem Pada Tahun 1980 Melalui Teori Depedence
 Pencetus teori dependence salah satu tokoh yang paling termasyur yaitu Andre Gunder Frank. Frank secara ekplisit menjelaskan kenapa negara-negara pada dunia ketiga  cenderunga ketergantungan terhadap negara maju. Frank dalam (koirudin : 229) menyatakan dalam [12]teori ketergantungannya, bahwa keterbelakangan negara-negara Dunia ketiga adalah berangkat dari akibat-akibat struktural. Artinya seiring dengan makin majunya negara dunia pertama atau maju, maka pada saat yang sama negara dunia ketiga akan mengalami teralienasi.” 
Tentu sependapat dengan frank, dengan problem masalah ketergantungan 1980. hal ini tentu sangat berkorelasi sekali. Dimana karena posisi dari  dunia pertama mengalami kemajuan maka tentu dari semua aspek dunia ketiga akan berkaca dan mempersepsikan idealitas dari negara pertama, tentu sebab dari itu negara dunia ketiga mengalami keterasingan. Pada taraf kebertahanan ekonomi, memang negara dunia pertama dinilai lebih stabil. sebab inilah yang  membuat negara dunia ketiga meminta sokongan bantungan modal untuk tujuan kestabilan ekonomi untuk menyamai negara dunia pertama . tentu hal tersebut tidak akan pernah bisa terjadi. Sebab secara teori, kemajuan dari dunia pertama karena sangat cepat maka hal itu akan sulit di ikuti oleh negara dunia ketiga yang baru berusaha maju.
Maka selamanya kedok dari bantuan modal dari negara dunia pertama hanya akan menjadi jebakan bagi dunia ketiga untuk terus ketergantungan modal hutang luar negeri. Tentu perihal tersebut berkolerasi dengan apa yang dihadapi oleh indonesia pada kurun waktu tahun 1980. Dengan melalui problem hutang luar negeri yang sering dilakukan oleh indonesia. Hal itu akan terus menjadi dasar ketergantungan indonesia. yang pada taraf ini,  tidak hanya pada ketergantungan Hutang luar negeri namun juga ketergantung Komoditi gula yang diangkat oleh penulis diatas pada tahun 1980.  Yang di akibatkan dari ketidakmampuan dari dunia ketiga terhadap dunia pertama.     


Kesimpulan
Ketergantungan yang hadir di indonesia mulai dari ketergantungan komoditi dan juga ketergantungan hutang luar negeri sering menjadi problema tersendiri bagi indonesia. Hadirnya konsep modernisasi dan juga westernisasi yang menjadi akibat dari hadirnya ketergantungan terhadap negara pertama. Modernisasi memaksakan masyarakat dari dunia ketiga untuk mengikuti asusmi dasar dari konsep modern yang di gambarkan oleh negara maju. Tentu hal ini akan sulit di capai untuk negara dunia ketiga. Hal inilah yang menjadi dasar penyebab negara ketiga seperti indonesia terjerumus masuk kelubang ketergantungan.
Sejalan dengan itu, westernisasi juga dinilai sebagai model dari ketergantungan. westernisasi pada masyarakat dunia ketiga akan membuat kesadaran pada aktivitas perilaku dan tindakan masyarakat di negara dunia ketiga berusaha menyamai orang barat. Tentunya jika tindakan dan perilaku tersebut berusaha menyamai orang barat maka aktivitas dari segi ekonomi misalnya, akan hanya membuat ketergantungan terhadap produk dari yang dihasilkan orang barat. Problem ketergantungan tidak semata-semata hadir di indonesia begitu saja. Ketergantungan yang dialami di indonesia di awali sejak tahun 1980. Mulai dari ketergantungan Hutang luar negeri dan juga ketergantungan komoditi seperti halnya gula. Tentu praktek tersebut akan membuat negara ketiga semakin ketergantungan terhadap negara pertama.
Selanjutnya posisi dari ketergantungan dilihat oleh kacamata Andre Gunder Frank. diamenjelaskan kenapa negar-negara pada dunia ketiga  cenderunga ketergantungan terhadap negara maju. Lalu dia menyatakan dalam teori ketergantungannya, bahwa keterbelakangan negara-negara Dunia ketiga adalah berangkat dari akibat-akibat struktural. Artinya seiring dengan makin majunya negara dunia pertama atau maju, maka pada saat yang sama negara dunia ketiga akan mengalami teralienasi. Tentu sependapat dengan frank, dengan problem masalah ketergantungan 1980.

hal ini tentu sangat berkorelasi sekali. Dimana karena posisi dari  dunia pertama mengalami kemajuan maka tentu dari semua aspek dunia ketiga akan berkaca dan mempersepsikan idealitas dari negara pertama, tentu sebab dari itu negara dunia ketiga mengalami keterasingan dan juga ketergantungan


______________________________________________________________
 Daftar pustaka :
Gea AA .2005.“Relasi Dengan Dunia (alam, iptek & kerja).PT Elex Media Komputindo Kelompok Gramedia. Jakarta.
Purwono & Purnamawati H.2007. “budidaya 8 jenis tanaman panggul”. Penebar Swadaya.Depok.
Basya HS.2008. “Kubisikan Pesan Cinta Untukmu (untaian nasehat penuh cinta untuk kaum muda islam saat melawati masa-masa “kritis” keremaajannya)” . mirqat. Jakarta
Waluya B.2007. “menyelami fenomena sosial di masyarakat”PT Setia Inves. Bandung.
Budiman arif.2006. “Kebebasan, Negara, Pembangunan: kumpulan tulisan, 1965-2005”.Pustakan Alfabet & freedom institut. Jakarta.  
Koirudin.2005. “Menuju Partai Advokasi”. Pustaka Tokoh Bangsa. Yogyakarta

Atmadja AS.2000. “utang luar negeri pemerintah indonesia : perkembangan dan dampaknya”. Artikel. Fakultas ekonomi. Universitas kristen petra surabaya.

Dachliani, D.M . 2006, “permintaan impor gula indonesia tahun 1980 – 2003”.  Tesis, Program Studi Magister Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan, universitas diponegoro semarang






[1]Antonius Atosokhi Gea pada buku “Relasi Dengan Dunia (alam, iptek & kerja) Hal 181
[2]Hassan samsi basya pada buku “Kubisikan Pesan Cinta Untukmu (untaian nasehat penuh cinta untuk kaum muda islam saat melawati masa-masa “kritis” keremaajannya)” hal 358
[3]Antonius Atosokhi Gea pada buku “Relasi Dengan Dunia (alam, iptek & kerja) Hal 182
[4]Purwono dan heni purnamawati pada buku “budidaya 8 jenis tanaman panggul” hal 3
[5]Dachliani pada tesis “permintaan impor gula indonesia tahun 1980 – 2003” hal 65
[6]Bagja waluya pada buku “menyelami fenomena sosial di masyarakat” hal 95

[7]Arif budiaman pada buku  “Kebebasan, Negara, Pembangunan: kumpulan tulisan, 1965-2005” pengantar hal 9

[8]Ibid

[9]Arif budiaman pada buku  “Kebebasan, Negara, Pembangunan: kumpulan tulisan, 1965-2005” pengantar hal 11

[10] Adwin Surya Atmadja, pada jurnal “utang luar negeri pemerintah indonesia : perkembangan dan dampaknya” hal 88
[11]Dachliani pada tesis “permintaan impor gula indonesia tahun 1980 – 2003” hal 65
[12] Koirudin pada buku “menuju partai advokasi” Hal 229

Kamis, 10 Desember 2015

Profil Ketampanan & Maskulinitas Pada Iklan L'MEN


Profil ketampanan dalam bingkai maskulinitas yang ditampikan oleh media televisi melalui iklan L’MEN




  

Oleh februdi akbar
Nim 130910302014








PROGRAM STUDI SOSIOLOGI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS JEMBER
2015


























BAB 1. PENDAHULUAN

1.1.Mengapa harus mengkaji “profil ketampanan dalam bingkai maskulinitas yang ditampilkan oleh media televisi melalui media iklan L’MEN”

Dewasa ini perbincangan mengenai profil ketampanan sangat luas sekali. Dimana profil dari ketampanan itu sendiri memiliki makna dan nilai yang monumental di dalam masyarakat. makna dan nilai dari profil ketampanan itu sendiri dapat terjadi ataupun tergambar melalui peran dari seorang laki-laki melaui tingkah laku dan kerja.
Profil ketampanan juga mengalami fluktuatif seiring dengan perkembangan zaman. Salah satu contoh misalnya profil ketampanan yang ditampilkan oleh masyarakat madura. Dulu penggambaran orang madura mengenai profil tampan di masyarakat yaitu dengan simbol atau tanda-tanda kejantanan melalui bentuk kerja dan tingkah lakunya. Profil Ketampanan orang madura bukan berdasarkan warna kulit putih, wajah tirus, brewok, ataupun profil ketampanan pada era sekarang ini yang sebagian besar disimbolkan melalui profil ketampanan seperti orang korea.
hal tersebut terjadi akibat dari perkembangan dunia media. Yang pada hal ini, media melakukan semacam propaganda pembentukan rasionalitas media melalui iklan, informasi, bahkan film. Yang selanjutnya pembentukan rasionalitas media diturunkan menjadi rasionalitas sosial. Pada taraf ini rasionalitas media menampilkan figur laki-laki tampan melalui laki-laki yang di gambarkan seperti orang eropa dan korea. bingkai maskulinitas juga sering ditmpilkan iklan melalui bentuk ; kulit putih, wajah tirus, brewok . Lebih jauh hal tersebut menjadi sebuah rasionalitas sosial pada takaran profil ketampanan pada sekarang ini. 
hal itu sangat bertolak belakang pada profil ketampanan pada orang madura yang sejatinya terletak pada tingkah laku dan bentuk kerja. Profil ketampanan itu sendiri ditampilkan dengan Simbol melalui Tingkah laku dan bukan bersifat fisik tertentu. Karena pada profil ketampanan orang madura pada dasarnya tidak memiliki profil ketampanan pada era sekarang yang disimbolkan dengan profil ketampanan seperti orang eropa dan korea.
Adanya media massa seperti halnya media televisi secara tidak langsung  mempengaruhi dari pada profil tampan pada masyarakat. Seperti yang kita ketahui, media televisi merupakan alat yang sangat ampuh dalam menjangkau masyarakat luas mengenai apa yang ditampilkan di media tersebut. hal tersebut juga tidak menampik pada profil ketampanan yang ditampilkan oleh media massa khususnya iklan.
Shimp (2003) berpendapat bahwa celebrity endorser adalah menggunakan artis sebagai bintang iklan di media-media, mulai dari media cetak, media sosial, maupun media telivisi. Selain itu selebriti digunakan karena atribut kesohorannya termasuk ketampanan, keberanian, talenta, keanggunan, kekuatan, dan daya tarik fisiknya yang sering mewakili daya tarik yang diinginkan oleh merek yang mereka iklankan[1].   
            Hal ini secara tidak langsung pada benak masyarakat luas representasi dari  celebrity endoser menjadi sebuah asumsi dasar pada sebuah profil ketampanan. Maksudnya profil tampan akan disimbolkan pada orang tertentu jika orang tersebut  menyamai ataupun hampir sama dengan artis pada yang ditampilkan media ataupun media massa pada iklan. Pada iklan, maskulinitas juga sering dihadirkan pada penggambraannya melalui gerak, fisik, gaya dan sejenisnya.
Selanjutnya mengapa harus mengkaji “profil ketampanan dalam bingkai maskulinitas yang ditampilkan oleh media televisi melalui media iklan L’MEN”..? dengan melakukan pengkajian tentang hal di atas, tentunya dapat menjadi sebuah wacana, referensi, tambahan ilmu, atupun sekedar objek bacaan bagi yang membacanya. Namun pada takaran penulis, hal ini sebagai ajang untuk “mengetahui profil ketampanan dalam bingkai maskulinitas yang ditampilkan oleh media televisi melalui media iklan L’MEN pada era sekarang ini melaui maraknya media iklan” dengan menampilkan figur-figur laki-laki tertentu sesuai dengan  iklan yang terkait. Pada kajian ini, penulis hanya memfokuskan pada iklan L’MEN. Tidak berhenti disitu, Penulis juga ingin menarik persepsi mahasiswa pada takaran terkecil yaitu “anak soiologi 2013” profil ketampanan dalam bingkai maskulinitas yang ditampilkan oleh media televisi melalui media iklan L’MEN
Sebagai realita, media massa yang ditampilkan iklan L’MEN benar adanya. Juga pergesaran mengenai konsep profil ketampanan pada tataran individu era sekarang ini juga benar adanya. Mengacu pada peran cabang ilmu semiotika, “sementara dalam konsep peirce simbol diartikan sebagai tanda yang mengacu pada obyek tertentu di luar tanda itu sendiri. hubungan antara simbol sebagai penanda dengan sesuatu yang sifat konvensional. Berdasarkan konvensi itu pula masyarakat pemakainya menafsirkan ciri hubungan antara simbol dengan obyek yang diacunya dan menafsirkan maknanya”.[2]
 pernyataan diatas seolah mengatakan secara halus, pada pernyataan peirce “masyarakat pemakainya menafsirkan ciri hubungan antara simbol dengan obyek yang diacunya dan menafsirkan maknanya”. atau jika di perhalus dan di persempit lagi,  yang disimbolkan dari iklan L’MEN pada “masyarakat pemakainya” yaitu ada pada yang disimbolkan oleh figur atau tokoh yang memerankan pada iklan L’MEN. Secara tidak sadar simbol tersebut seolah memperkokoh atau memperkuat simbol pada diri figur atau tokoh yang ditampikan dari iklan yang terkait. Hal ini dilakukan sebagai penyampaian simbol yang legalitas pada iklan tersebut.
selanjutnya figur yang dipusatkan sebagai obyek akan memainkan peran untuk seolah mewakilkan dari bagian masyarakat yang  ada di dalamnya agar di legalitas keadaanya “fisik yang meliputi warna kulit, bentuk wajah, gayanya dll pada iklan tersebut”. Disini dia memainkan peran agar masyarakat umum yang belum tau akan  iklan L’MEN yang ketika melihatnya menjadi mengikuti asumsi dasar yang di simbolkan oleh iklan L’MEN tersebut. terakhir, asumsi pada makna selanjutnya akan terus bertumpu pada simbol yang di tampilkan oleh iklan L’MEN.
Dengan adanya contoh kasus yang di usung diatas, dan selanjutnya akan menjadi sebuah kajian bagi penulis yaitu tentang “profil ketampanan dalam bingkai maskulinitas yang ditampilkan oleh media televisi melalui media iklan L’MEN”.  Dengan demikian maka bagi penulis hal ini akan menjadi sebuah pengalaman pertama dalam  menulis kajian tentang profil ketampanan. ataupun bagi pembaca hal ini bisa sebagai ajang wacana, referensi, tambahan ilmu, atupun sekedar objek bacaan seperti yang sudah penulis singgung di atas. Karena dari kajian ini, nantinya juga dapat menjadi sebuah renungan bersama agar tidak gampang terpengaruh dan memasuki asumsi dasar yang ditampilkan oleh media khususnya melalui media iklan.  

1.2. Lingkup kajian mengenai “profil ketampanan dalam bingkai maskulinitas yang ditampilkan oleh media televisi melalui media iklan L’MEN
Lingkup kajian mengenail profil ketampanan melalui media iklan yaitu berada pada pada media televisi yang menjadi obyek pengamatanan nantinya melalui iklan L’ MEN.  Selanjutnya  lingkup persoalan pada kajian mengenai profil ketampanan diantaranya sebagai berikut :

  1.        Apa yang sebernanya akan di kaji pada “profil ketampanan dalam bingkai maskulinitas yang ditampilkan oleh media televisi melalui media iklan L’MEN”..? Yang akan dikaji disini, titik tekannya berada pada bagaimana posisi perilaku maskulinitas. yang selanjutnya maskulinitas menjadi bingkai dari profil ketampanan.
  2.     .      Bagaimana profil ketampanan dalam bingkai maskulinitas yang ditampilkan oleh media televisi melalui media iklan L’MEN dapat terjadi..? Hal ini terjadi akibat dari wacana yang sering digambarkan  oleh media televisi melalui iklan yang selalu menggambarkan  sosok laki-laki maskulin. Penggambaran maskulin yang di gambarkan pada iklan L’MEN Ada pada penggambaran fisik dan latar tempat.
  3.   .        Apa tujuan dari pengambaran  profil ketampanan dalam bingkai maskulinitas yang ditampilkan oleh media televisi melalui media iklan L’MEN.? Penggambaran dari iklan L’MEN seolah berbau “Propaganda” dimana posisi dari maskulinitas melalui yang ditampikan oleh iklan L’MEN menjadi penggambaran sosok profil dari ketampanan. 
  4.         Mengapa pengambaran  profil ketampanan dalam bingkai maskulinitas yang ditampilkan oleh media televisi melalui media iklan L’MEN terjadi.? Tentunya dari pengambaran yang ditampilkan oleh iklan dengan  “profil ketampanan dalam bingkai maskulinitas yang ditampilkan oleh media televisi melalui media iklan L’MEN”. Adanya sebab musababnya peralihan profil ketampanan jadi alasan dari ke indetikannya dengan bingkai maskulinitas.

1.3. Tujuan dilakukannya kajian mengenai “profil ketampanan dalam bingkai maskulinitas yang ditampilkan oleh media televisi melalui media iklan L’MEN”
Tujuan dilakukannya mengenai profil ketampanan dalam bingkai maskulinitas yang ditampilkan oleh media televisi melalui media iklan L’MEN adalah sebagai berikut:

  1.            Kajian dari “profil ketampanan dalam bingkai maskulinitas yang ditampilkan oleh media televisi melalui media iklan L’MEN” yaitu untuk mengetahui jalannya maskulinitas pada iklan L’MEN melalui ilmu semiotik
  2.     .                 Dengan melakukan kajian “profil ketampanan dalam bingkai maskulinitas yang ditampilkan oleh media televisi melalui media iklan L’MEN dapat mengetahui perjalanan profil ketampanan yang menjadi dasar dari bingkai maskulinitas pada iklan L’MEN melalui ilmu semiotik.
  3.   .             Kajian mengenai “profil ketampanan dalam bingkai maskulinitas yang ditampilkan oleh media televisi melalui media iklan L’MEN” diharapkan mampu mengetahui tujuan dari hadirnya maskulinitas pada iklan L’MEN.
  4.          Kajian mengenai “profil ketampanan dalam bingkai maskulinitas yang ditampilkan oleh media televisi melalui media iklan L’MEN” diharapakan mampu mengetahui sebabmusababnya dan fungsi hadirnya maskulinitas pada iklan L’MEN melalui ilmu semiotik

1.4. Signifikasi kajian mengenai “profil ketampanan dalam bingkai maskulinitas yang ditampilkan oleh media televisi melalui media iklan L’MEN”
Hadirnya media televisi dengan keunggulannya di dalam menyampaikan informasi dan periklanan kepada khalayak ramai. Menjadi sebuah hal yang harusnya dicermati, pada taraf pemaknan pada simbolisai yang digambarkan iklan L’MEN. Maka dari itu, penulis disini menarik  Signifikasi pada kajian “profil ketampanan dalam bingkai maskulinitas yang ditampilkan oleh media televisi melalui media iklan L’MEN” yang terletak pada :

  1.      Pertama, kajian “profil ketampanan dalam bingkai maskulinitas yang ditampilkan oleh media televisi melalui media iklan L’MEN” yaitu untuk mengetahui signifikan dari profil tampan yang di identikan melalui maskulinitas pada iklan L’MEN dengan ilmu semiotik.  Adanya kajian ini juga sebagai tambahan referensi pada penelitian selanjutnya untuk mengembangkan kajian yang serupa.
  2.     Kedua, kajian “profil ketampanan dalam bingkai maskulinitas yang ditampilkan oleh media televisi melalui media iklan L’MEN” signifikasinya terletak pada pergeseran profil ketampanan melalui hadirnya penggambaran maskulinitas pada iklan dengan ilmu semiotik. Dengan mengetahui hal itu, dapat menjadi pembanding bagi peneliti untuk penelitian sebelumnya dan untuk kedepan pada kajian yang serupa.


1.5.. Sistematika Penulisan
       Sitematika penulisan kajian “profil ketampanan dalam bingkai maskulinitas yang ditampilkan oleh media televisi melalui media iklan L’MEN” diantaranya sebagai berikut :
     Bab 1
Dalam bab pertama ini terdiri dari alasan mengapa dilakukanya penelitian suatu kajian “profil ketampanan dalam bingkai maskulinitas yang ditampilkan oleh media televisi melalui media iklan L’MEN”. Setiap alasan-alasan yang menjadi landasan dalam melakukan kajian mengenai “profil ketampanan dalam bingkai maskulinitas yang ditampilkan oleh media televisi melalui media iklan L’MEN” yang dipaparkan pada pokok pembahasan bagian pertama.
Lingkup kajian mengenai “profil ketampanan dalam bingkai maskulinitas yang ditampilkan oleh media televisi melalui media iklan L’MEN” yaitu membahas akan permasalahan-permasalahan yang menjadi landasan dalam mencari batasan-batasan masalah dalam penelitian ini. Tujuan dilakukannya kajian mengenai “profil ketampanan dalam bingkai maskulinitas yang ditampilkan oleh media televisi melalui media iklan L’MEN” yaitu untuk mendifinisikan pentingnya dari kajian ini. Selanjutnya pada poin terakhir, adalah signifikasi dalam mencari landasan atau dasar pada kajian ini.
    Bab 2
         Menjelaskan media iklan melalui media televisi, macam-macam iklan, sifat dari iklan, dan penggambaran-penggambaranya yang lain melalui media televisi dengan iklan khususnya iklan L’MEN
  Bab 3   
           Menjelaskan tenatang ranah ilmu semiotika untuk menjawab apa yang ditampilkan oleh media iklan L’MEN  di dalam  penyampaiannya yang sarat akan pesan dan kesan.
 Bab 4   Menjelaskan tentang maskulinitas pada iklan, kenapa maskulitas sering hadir di media iklan L’MEN


BAB II. MEDIA TELEVISI
2.1. Pendahuluan
Seiring dengan hadirnya teknologi yang semakin maju. Hadirnya media massa meruapakan alat yang digunakan dalam penyampaian pesan-pesan dari sumber kepada khalayak (menerima) dengan menggunakan alat-alat komunikasi mekanis seperti surat kabar, film, radio, dan TV (Cangara,2002).[3]
hadirnya Media massa merupakan alat yang sangat ampuh di dalam menyampaikan informasi pada era sekarang ini. sebab yang ditampilkan oleh media massa  melalui “teks, verbal, dan visual” dengan acara ataupun informasi mengenai sebuah peristiwa yang up to date serta penampilan iklan di dalamnya, sangat mudah diterima oleh masyarakat luas.
Tentu dengan hadirnya media massa khusunya media televisi, masyarakat luas pada era sekarang ini dapat lebih leluasa untuk  mengetahui penyebaran informsi dan juga promosi-promosi produk tertentu melalui periklanan pada media televisi.
 Menengok pada sejarah sejenak, “kemunculan media massa pada tahun 1990 juga diikiuti juga dengan perkembangan industri yang diduplikasi, mengikuti setiap “revolusi” berikutnya dalam teknologi media. Setiap kemunculan media baru akan mempengaruhi media yang sudah ada. Kehadiran microsoft, google, dan you tube secara tidak langsung mempengaruhi perusahaan lama yang berkutat pada media massa “televisi, koran, dan surat kabar[4].  
hadirnya ketiga perusahaan baru pada waktu itu seperti microsoft, google, dan you tube. menjadi sebuah ancaman besar bagi media lama seperti media massa “televisi, radio, dan surat kabar”. hal ini menjadi sangat relevan memang dimana hadirnya sebuah teknologi baru akan mempengaruhi media lama. Hadirnya media baru seperti microsoft, google, dan you tube secara langsung  mempengaruhi dari eksistensi dari media lama. Maka dari itu hadirnya revolusi media pada waktu itu, banyak mengalamai kerugian pada media lama. 
Namun pada sekarang ini fakta berbicara berbeda. Hadirnya media televisi dan juga media sosial atau “internet” akibat dari perkembangan zaman. Tidak juga menurunkan eksistensi dari media televisi karena di pertemukannya dengan hadirnya media sosial. Hadirnya you tube dan google juga tidak menimpangkan eksisnya media televisi. Orang lebih menyukai acara melalui media televisi dikarenakan “praktis”.  tidak seperti google ataupun you tube yang membutuhkan jaringan internet aktif untuk melihat acara dan informasi di dalamnya.
Hadirnya media televisi pada sekarang ini, merupakan instrumen yang  ampuh dalam penyebaran informasi dan pengiklanan produk melalui media ini. Penyampaian informasi dan iklan melaui media televisi merupakan gerakan yang sangat cepat dan mudah diterima oleh masyarakat.  
Adanya Media televisi juga mempunyai dampak yang signifikan antara Positif ataupun negatif. Media televisi dapat menjadi wadah oleh sebagian masyarakat untuk melakukan hal positif. Contoh semisal, dengan adanya media televisi seseorang ataupun kelompok dari masyarakat dapat melakukan kegiatan gerakan peduli sesama yang dapat menstimulus orang lain untuk melakukan hal yang serupa nantinya. Dengan media televisi seseorang juga dapat menaruh iklan produk ataupun iklan layanan masyarakat. hadirnya media televisi juga dapat membantu masyarakat dalam memperoleh informasi up to date mengenai suatu pristiwa yang terjadi di luar negeri semisal. Dan masih banyak lagi dampak positif dari adanya media televisi.  
Hadirnya Media televisi juga menjadi momok yang harus diwaspadai. mengapa demikian, adanya media televisi yang merupakan instrumen yang sangat cepat dan mudah diterima oleh masyarakat, dapat di jadikan oleh sebagian orang untuk kemungkinan melakukan “propaganda” mengenai suatu peristiwa. Hal tersebut dilakukan untuk meninggikan rating pada stasiun televisi yang lama melintang pada media televisi

2.2 Iklan Televisi
Menurut (hendy y 2009 : 73) iklan terdiri dari 2 kategori, yaitu iklan komersial dan iklan sosial. Iklan komersial titik  tekannya dimana pada memperoleh untung sebesar-besarnya atas produk yang di iklankannya. Sedangkan pada iklan sosial bertujuan untuk memberikan informasi dan menerangkan kepada masyarakat tentang pelayanan atau penyuluhan dan tentunya hal ini bermanfaat.
Iklan merupakan instrumen bagi pemilik modal untuk melanggengkan prakteknya melaui media televisi. Meskipun pada era sekarang ini, banyak wadah-wadah media yang menyediakan pengiklanan. Namun pengiklanan yang paling menjadi rujukan utama tentunya adalah media televisi. Dikarenakan lebih sering dilihat oleh halayak ramai dibanding dengan media-media yang lain seperti media teks dan verbal. Sebab dengan media visual seorang akan lebih cepat tertarik dari pada dengan media verbal atupun tekstual. 
(Raymon williyam,1993 : 320) iklan bagaikan sebuah dunia magis yang dapat mengubah komoditas kedalam gemerlapan yang memikat dan mempesona. sebuah sistem yang keluar dari imajinasi dan muncul kedalam dunia nyata melalui media.[5]
Secara tersirat, raymon william  ingin mengatakan bahwa apa yang di gambarkan iklan pada media televisi hanya imajinasi dari si pengiklan dan selanjutnya di lemparkan ke pada media khususnya media televisi. Hal ini seolah ingin mengatakan, bahwa yang di gambarkan oleh iklan melalui media tidak akan pernah menjadi nyata sebab hal itu hanya akan benar-benar nyata pada media namun pada realitas sosial hal itu tidak akan pernah ada.
[6]Maka sesungguhnya copy writer dan visualizer-lah yang paling besar perannya dalam memberi “nuansa hidup”  kepada iklan televisi. Mereka telah mengubah realitas sosial bahkan mereproduksi realitas sosial dan mengomunikasikan dalam bahasa informasi kepada khalayak sehingga realitas itu 
tidak lagi menjadi realitas iklas televisi, namun menjadi realitas informasi dan komunikasi yang saraf dengan muatan-muatan kontruksi sosial dan setiap saat membentuk imajinasi dan kognisi pemirsa.
Maka dari itu, peran dari iklan bukan hanya sekedar menjadikan realitas sosial menjadi realitas pada iklan. Namun bagaimana realitas dari iklan di legitimasi menjadi realitas sosial melalui penyampain informasi melalui iklan tersebut. sebagai contoh, orang akan dinilai “cantik ataupun tamapan” jika realitas pada iklan dan realitas soial telah berdampingan. Maksudnya, karena realitas pada iklan sudah menjadi realitas pada realitas sosial. Maka apa yang direpresentasi dari iklan pada akhirnya harus menuntut sesorang menyamai apa yang di representasikan oleh iklan. Representasi dari realitas iklan bisa berupa pesan dari aktris, gaya dari aktris, dll yang digambarkan oleh iklan. Agar legitimasi pada contoh profil tampan ataupun cantik benar di akui oleh realitas sosial, maka harus menuntun sama dengan realitas iklan melaui menerima asumsi dasar pada iklan dan menyamai gaya aktris dari iklan tersebut .  
Selanjutnya, iklan memiliki fungsi menurut monle lee dan carla johnson (2007:11) yaitu:
  1.   Periklanan menjalankan sebuah fungsi “informasi”, ia mengkomunikasikan informasi produk, ciri-ciri, dan lokasi penjualannya.
  2.    Periklanan menjalankan sebuah fungsi “persuasif”, ia mencoba membujuk para konsumen untuk membeli merek-merek tertentu atau mengubah sikap mereka terhadap produk atau perusahaan tersebut.
  3.   Periklanan menjalankan sebuah fungsi “pengigat”, ia terus menerus mengingatkan para konsumen tentang sebuah produk sehigga mereka akan tetap membeli produk yang diiklankan tanpa memperdulikan merek pesaingnya.
 hadirnya iklan dimasyarakat sangat mudah diterima oleh halayak ramai dalam penginformasiaannya mengenai suatu produk. apalagi produk yang di iklankan melalui media televisi, yang pada umumnya setiap hari orang  melihat acara-acara dan informasi melalui media televisi. Hal ini Tidak hanya membantu, namun juga mempermudah masyarakat dalam menemukan lokasi dimana produk tersebut berada.
Adanya sebuah iklan, membuat sesorang “dalam membeli suatu produk” akan selalu berfikir dan mempertimbangkan produk yang akan dibeli sesuai dengan pengalaman yang dia punya. Sebagai contoh : seseorang akan tetap memilih sabun muka A ataupun beralih terhadap sabun muka B akibat dari apa yang dia lihat di media televisi khususnya iklan. Orang akan terus mempertimbangkan suatu produk dengan produk yang lain. meskipun bisa saja dari segi kualitas antara produk sabun A  dan produk sabun B memiliki kandungan yang sama. Namun hanya dengan konsep pengiklanan yang lebih menarik dari iklan sabun B dari pada iklan sabun A orang yang melihat iklan tersebut terpengaruh dan beralih memakai produk sabun B.
Hadirnya iklan juga mempengaruhi konsumen didalam mempertahankan suatu produk akibat dari telah terbiasanya memakai produk tersebut. apalagi dengan dipadukannya pengiklanan pada produk terkait semakin bagus pada pengiklanan dan  kemasaannya. Pada taraf ini konsumen akan tetap mimilih mempertahankan memakai produk tersebut dari pada beralih menggunakan produk yang lain. hal ini diakibatkan dengan ditunjangnya segi pengiklanan yang bagus dan juga didukung dari kemasan juga.
  
2.3 Bentuk-Bentuk Iklan
Frank jefkins dalam burhan (2008 : 109) secara garis besar bentuk – bentuk iklan terdiri dari beberapa jenis yang digolongkan menjadi tujuh kategori utama yakni :
1.      Iklan Konsumen
2.      Iklan antar bisnis
3.      Iklan perdagangan
4.      Iklan eceran
5.      Iklan keuangan
6.      Iklan langsung
7.      Iklan rekrutment
 iklan konsumen, yaitu bertujuan untuk menawarkan barang kepada konsumen secara seluas-luasnya melalui berbagai media. Media beruapa media verbal, teks, dan visual.
Pada iklan antar bisnis  periklanan hanya pada taraf perusahaan-perusahaan dan memperjualkan bahan-bahan mentah untuk diolah kembali. Iklan ini tidak untuk konsumen malah non konsumen karena berupa bahan mentah. Sedangkan pada iklan perdagangan hanya ditujukan kepada distributor, para agen, ekportir maupun importir.
Selanjutnya pada iklan eceran, yaitu iklan yang dibuat oleh perusahaan pemilik produk atau pemasok produk yang disebarkan di pasar swalayan, supermarket, toko dan sebagainya. Contohnya dari rujukan pada iklan tersebut yaitu pada perusahaan buku, roti, mentega dll. sedangkan Pada Iklan keunagan, iklan ini di khususkan untuk bank, jasa tabungan, asuransi, dan investasi dan iklan lain yang sejenis dengan ini. Iklan rekrutmen hanya ditujukan pada media yang memfasilitasi ini yaitu biasa ada apa media teks atau koran. 
Bove dalam burhan (2008:110) mengatakan iklan dapat diklarifikasi berdasarkan 3 kategori :
1.     Target audiens terdiri dari pemakai, bisnis atau industrial, perdagangan, profesional, dan pertanian
2.      Wilayah geografis ; internasional, nasional, regional, atau lokal
3.     Penggunaan media ; media cetak seperti koran, majalah, Media elektronik seperti radio, televisi, dan media luar rumah seperti poster, buletin
Media iklan dalam melakukan ekspansi produknya melalui media-media berupa media teks, verbal, dan  visual.  Akan melakukan kategorisasi terkait  siapa yang akan menjadi sasaran pemakai dari suatu produk. Selanjutnya yang diperhatikan adalah jangkauan dari pengiklanan suatu produk. Seberapa jauh Jangkauan dari priklanan menjangkau pada  skala internasional, nasional, regional atau bahkan lokal. Setelah itu, media apa yang akan digunakan dalam pengiklanan. Hal ini berfungsi untuk seberapa jauh ekspansi dari suatu produk melalui iklan dapat diterima oleh masyrakat.
seperti yang telah penulis singguh di atas, sebagian pengiklan lebih memproritaskan mengiklankan produknya melalui media televisi. Karena dilihat dari standarisasi yang dilakukan oleh media televisi  yang ketat dan juga dari segi penerimaan dari hadirnya iklan melalui media televisi mudah dan cepat diterima oleh masyarakat. 

2.4.  Kategorisasi Iklan Televisi
Hadirnya berbagai iklan melaui media televisi pada hari ini memang sangat marak. Bahkan semakin hari iklan yang hadir di televisi semakin hari semakin banyak dari sebelumnya. banyaknya populasi manusia di bumi juga mempengaruhi dari hadirnya iklan. Seperti yang diketahui, semakin populasi manusia bertambah secara langsung akan semakin banyak pula kebutuhan manusia. hal inilah yang menjadi dasar utama bagaimana peran dari iklan dalam memperkenalkan suatu produk untuk pemenuhan kebutuhan manusia yang semakin meningkat.
Kreativitas dari pengiklan sangat dibutuhkan pada taraf ini. Iklan yang bagus dan menarik akan mengundang masyarakat untuk mencoba dan menggunakan produk dari yang ditampilkan oleh iklan. Hadirnya media televisi sebagai sarana yang cepat dan mudah dalam pengiklanan yang menjadi alasan mendasar mengapa banyak pengiklan yang lebih menyukai megiklankan produknya melalui media televisi. Namun bila dibanding dengan media lain iklan televisi memiliki kategorisasi yang jauh berbeda dengan dengan media yang lain. kekuatan itu terletak pada kekuatan visual dan kekuatan audio. Hal ini tentunya berbeda dengan media-media yang lain, yang memiliki kekuatan dan kelemahan sendiri-sendiri antara media yang satu dengan yang lain.
Iklan televisi dibangun dari kekuatan visualisasi objek dan kekuatan audio. Simbol-simbol yang divisualisasi lebih menonjol dibanding dengan simbol-simbol verbal. umumnya iklan televisi menggunakan cerita-cerita pendek menyerupai karya film pendek. Dan karena waktu  tayangan yang pendek, maka iklan televisi berupaya keras meninggalkan kesan yang mendalam kepada pemirsa dalam beberapa detik.[7]
            Bove dalam burhan (2008 : 111) iklan televisi salah satu dari iklan lini atas. Umumnya iklan televisi terdiri dari iklan sponsorship, iklan layanan masyarakat dan iklan spot
Sebab kekuatan pada media televisi  terletak pada pada kekuatan audio dan visiual maka ekplorasi dari pada kreativitas dan imajinansi dari pengiklan dibutuhkan pada peningkatan suatu produk. selanjutnya pada kesan yang dibuat oleh si pengiklan, pengiklan akan meninggalkan image baik dan meninggalkan sarat pesan yang konsumtif pada produk yang di iklankan. Sebab, maraknya iklan pada media televisi lebih didominasi oleh  iklan sponsorship dari pada iklan layanan masyrakat antaupun iklan spot. Iklan sponshorship juga didukung dengan dana yang tidak sedikit.
Pada iklan sponshorship, tujuannya utama  berada pada bagaimana iklan ini menarik khalayak ramai untuk memakai ataupun mengkonsumsi produk yang di iklankanya. Kesan-kesan yang menarik harus dibuat  oleh pengiklan melalui konsep ataupun dengan tayangan iklan yang menarik. Sebagai contoh : iklan rokok di indonesia, meskipun pada iklan rokok yang ditampilkan melalui media televisi di indonesia tidak menampilkan peragaan seseorang yang sedang merokok. Namun melalui kemasan pengiklanan yang bernuansa petualangan atau adventure dan acapkali juga bernuasa pemandangan alam lebih ditonjolkan pada iklan ini.  Semua itu dilakukan oleh pengiklan sebagai penggambaran sosok laki-laki penyuka petualangan. nantinya dengan menggunakan produk tersebut representasi dari yang ditampilkan oleh iklan “mengenai laki-laki yang suka adventure” akan muncul ketika menggunakan produk tersebut. 
Melalui ikala yang dibuat oleh pengiklanan tersebut, secara tersirat seolah ingin menyampaikan kesan baik “jika  menggunakan produk dari iklan tersebut sesorang akan lebih laki dan lebih menyukai sesuatu yang menantang”. Hal ini diperkuat dengan latar pengiklanan bernuansa adventure dan pemanandangan alam.

2.5. Sifat Pada Iklan
Tayangan yang dihadirkan pada media televisi sangatlah beragam. Tentunya hal itu juga memiliki tujuan-tujuan sarat makna dari yang ditampilkan pada tayangan televisi. Tayangan ditelevisi bisa berupa “informasi dan juga iklan-iklan”.  Kecendrungan pada yang ditampilkan oleh iklan dalam mempromosi suatu produk lebih bersifat “berbohong, mendustai, ataupun mengecoh”.
Seperti yang diungkap oleh sudjiman dan zoet dalam burhan (2008 : 115) iklan televisi memiliki sifat dan kecendrungan yang mendekati logika pembohong, namun jarang dapat dibantah karena umumnya masuk akal. Maka, seperti yang dijelaskan oleh umberto eco ; jika sesuatu tidak dapat digunakan untuk mengecoh, berarti ia tidak dapat digunakan untuk mengatakan sesuatupun, demikian definisi dusta. 
Pada taraf ini apa dilakukan oleh pengiklan dalam “pengecohan logika berfikir” penggambaran yang ditampilkan oleh sebuah iklan bukan untuk bertujuan merugikan dari konsumen. Namun hal ini seolah menstimulus seseorang untuk melihat iklan tersebut dan mulai berfikir logika apa yang dimainkan oleh iklan itu . selanjutnya penggambaran iklan tersebut juga memasukka tanda-tanda yang erat dengan ranah ilmu semiotik. Sebab pada hal ini,  iklan yang ditampilkan adalah sarat dengan tanda-tanda melalui figur yang membintanginya. Apa yang ditampilkan oleh iklan diambil dari realitas sosial yang selanjutnya diangkat menjadi realitas iklan memalui yang ditampilkan oleh ikalan.
Kecendrungan lain dari iklan juga terletak pada time and space, dimana relitas sosial itu dibangaun, dengan kata lain, iklan menembus dimensi tempat dan waktu. iklan televisi dapat menarik satu garis lurus diantara beberapa dimensi waktu dan tempat.[8]
 Penggambaran hal diatas dapat dilihan dari iklan L’MEN dimana figur sebelum meminum L’MEN serta belum melakukan kegiatan olahraga memiliki badan yang kurus. Namun selanjutnya perbandingan terjadi ketika telah meminum L’MEN badan pefigur berubah menjadi lebih berotot dari pada sebelumnya. Dimensi waktu tergambar melalui figur yang ditampilkan oleh iklan L’MEN “pada sebelum melakukan rutinitas olah raga dan meminum L’MEN” dimensi waktu perlihatkan melalui separuh perseparuh scane pada iklan L’MEN bentuk badan dari kurus perlahan menjadi berotot.
Pada dimensi tempat tergambar melalui figur yang ditampilkan oleh iklan L’MEN melalui tempat – tempat pefigur melakukan rutinitas olahraga yang berbeda-beda. namun nantinya konsumen dapat melihat perbedaan tempat-tempat tersebut tetap ada pada satu tanyangan iklan. Dibedakan melalui jeda-jeda scane saja namun tetap pada satu iklan yang sama.
Pada umumnya seorang  pengiklan, karena dikejar dengan space dan waktu pengiklanan. Pembuat iklan harus melakukan kreasi pada iklan yang akan ditampilkan. Dimana dengan lama waktu pengiklanan yang pendek seorang pengiklan harus mampu memberikan kesan dan juga simbol pada konsumen dengan waktu yang sedemikian cepat. 

2.6. Iklan Televisi sebagai The Magic System
Serbuan media televisi pada sekarang ini melalui berbagai tayangannya berupa “serbuan dari berbagai iklan”. Telah menjadi realitas sosial juga realitas media pada era sekrang ini. Pengertian dan pemaknaan Iklan oleh sebagian tokoh lebih dikenal sebagai the magic system. Hal ini faktanya memang sesuai dengan yang selalu ditampilkan oleh media televisi melalui iklan.
Vestergarad dan shoroder pada burhan (2008 : 84) mengatakan, hal yang mungkin di mengerti mengapa publikasi tetap dapat dipercaya padahal ada jarak antara apa yang ditawarkan dengan apa dijanjikannya, sama dengan yang dirasakan oleh pemirsa tentang apa yang diinginkan. Dua jarak antara itu terkesan terpenuhi hanya mimpi dan berlebihan saja. Rata-rata konsumen tidak terkejut dengan pembelian barang yang tidak sesuai dengn janji-janji iklan. Karena mereka sadari iklan hanya bagian kesadaran dari hasrat manusia untuk hidup lebih baik. Iklan merupakan fantasi yang tersimpan dalam dunia mimipi manusia.
Meskipun demikian, magnet dari iklan sangat kuat dalam mempengaruhi konsumen untuk mengikuti realitas pada media iklan. Hal ini dapat dibuktikan dengan terpengaruhnya seseorang melalui janji-janji yang dilontarkan oleh iklan. Sebagai contoh iklan pada sekarang ini memberikan janji-janji suguhan hadiah ketika membeli suatu produk. Hal ini dilakukan supaya menarik konsumen untuk semakin konsumtive pada barang tersebut melalui “lebih sering memaki produk tertentu” untuk mengharapkan hadiah yang dijanjikan oleh iklan.
Begitupun juga pada iklan L’MEN yang dapat mempengaruhi penggunanya untuk terus memakai produk L’MEN. Asumsinya ada pada terpenuhinya bentuk badan yang porposional seperti yang digambarkan oleh figur pada iklan L’MEN. The magic system bermain disini, contoh pada iklan L’MEN semisal, pembentukan badan berotot oleh figur/aktris pada iklan L’MEN  seolah dapat dicapai dengan waktu yang singkat dengan hasil bentuk tumbuh yang sangat porposional.   

2.7. Penutup
Hadirnya media televisi, yang merupakan instrument media dalam penyampaian tanyangan dan pengiklannya. Dengan melaui Media ini, penyebaran informasi bahkan periklanan lebih cepat diterima oleh masyarakat.  Hal ini Yang menjadikan media televisi  rujukan utama oleh para pengiklan untuk memasarkan produknya. Perkembangan media televisi juga tidak kalah eksisnya dengan media-media dengan hadirnya “internet” seperti google ataupun youtube yang ada pada saat ini.  
Pemasaran iklan juga mempertimbangkan pada skala persebarannya yaitu pada taraf “internasional, nasional, regional ataupun bahkan lokal”. Bentuk-bentuk iklan juga dikategorikan sebagai berikut ; iklan Konsumen, Iklan antar bisnis, Iklan perdagangan, Iklan eceran, Iklan keuangan, Iklan langsung, Iklan rekrutment.
Power dari iklan tertelatak pada kekuatan visual dan audio. Maka ekplorasi dari pada kreativitas dan imajinansi dari pengiklan dibutuhkan pada peningkatan suatu produk. Selanjutnya sifat pada iklan cenderung bersifat “berbohong, mendustai, ataupun mengecoh” meskipun pada realitas sosial hal itu memang ada. Namun polesan dari pengiklan menjadi lebih bersifat mengecoh pada realitas yang ada.
Iklan juga lebih dikenal  sebagai the magic system sebab iklan sering memberikan janji-janji suguhan hadiah ketika membeli suatu produk. Bahkan lebih dalam itu, iklan juga sering menggambarkan sesautu yang instan. Hal ini dilakukan supaya menarik konsumen untuk semakin konsumtive pada barang tersebut melalui. Hadirnya media iklan yang diangkat melalui pengangkatan dari realitas sosial yang selanjutnya diangkat menjadi realitas media khususnya iklan. menuntut sesorang untuk menyamai apa yang di representasikan oleh iklan




Daftar Pustaka

Burgin,Burhan.2008. Kontruksi Sosial Media Massa “kekuatan pengaruh media massa, iklan televisi dan keputusan konsumen serta krtik terhadap Peter L. Berger dan Thomas Luckman. Jakarta: Kencana 2008


Hendy Y.2009.belajar membuat iklan sukses. Yogyakarta : graha ilmu.

Baran S & Danis KD. 2014.“teori dasar komunikasi pengolakan, dan masa depan massa.jakarta.Salemba Humanika
Nuraini. A, Maktukhah I.2015.pengaruh celebrity endoser dan kualitas produk terhadap keputusan pembelian melalui cintra merek pada kosmetik warda dikota semarang. Jurnal management. Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Semarang.




BAB III.  PENGENALAN RANAH ILMU TANDA MELALUI “SEMIOTIKA’’ PADA IKLAN
3.1  Pendahuluan
Siapa yang tidak kenal dengan ilmu semantik atau yang lebih familiar dikenal dengan ilmu semiotika. Ilmu yang memfokuskan pada ilmu tanda-tanda. Ilmu yang sampai saat ini telah menjalar keberbagai ranah ilmu seperti “semiotika hukum, semiotika verbal, semiotika media dll yang sejenis”. Tokoh yang umumnya lebih dikenal pada ilmu ini yaitu “roland barthes, charles sanders pierce, ferdinand de saussure”.
Semiotika juga hampir dikenal dengan ranah ilmu semiologi. Namun pada keduanya itu perbedaannya terletak pada, tokoh rujukan. Semiologi lebih berada pada aliran saussure sedangkan semiotika pada aliran piercean. Meskipun keduanya berbeda, tidak pada memiliki arah ilmu yang berbeda secara substantif melainkan keduanya sama-sama menuju arah ke semiotika. Sebab semiotika lebih populer dikenal dari pada semiologi. Namun juga keduanya tetap pada ranah ilmu yang sama yaitu mempelajari tentang semiotika berupa “tanda-tanda”.
Istilah tanda menurut eco dalam muzaaki (2007:9) tanda itu sendiri didefinisikan sebagai sesuatu yang dapat mewakili sesuatu yang lain atas dasar konvensi sosial.
Senada dengan itu semiotika adalah ilmu tentang tanda-tanda. Ilmu yang mengganggap bahwa fenomena sosial atau masyarakat dan kebudayaannya merupakan tanda-tanda. Artinya, semiotika mempelajari sistem-sistem, aturan-aturan, konvensi-konvensi yang memungkinkan tanda-tanda tersebut mempunyai arti. Dengan kata lain, semiotika mempelajari relasi diantara komponen-komponen tanda, serta relasi antara komponen-kompenen tersebut dengan masyarakat penggunanya[9] 
Eco dalam sobur (2006:95) secara terminologis, semiotik dapat didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari sederetan luas objek-objek, peristiwa-peristiwa seluruh kebudayaan sebagai tanda. Secara eksplisit, kebudayaan dan fenomena yang terjadi pada masyarakat adalah tanda-tanda yang telah menjadi realitas sosial. Sistem, aturan, dan konvensi adalah tanda-tanda pada realiatas sosial yang ada pada masyarakat dan tentunya harus dipatuhi. Tanda-tanda yang ter representasi melalui ketiga tadi, yaitu pada sistem, aturan dan konvensi menuntut seorang harus menyepakati hal itu.
Semiotika tidak hanya fokus pada tanda melainkan juga pada makna dari sebuah tanda, makna dan mitos. Pada tanda, ada pada aktivitas sehari-hari manusia yang bisa di anisis sepeti “nama/sebutan, peran, fungsi, tujuan dan keinginan. Tanda juga bisa dilihat melalui gerak isyarat, lampu kendaraan, seragam dll. Pada elemen tanda sassusure terdiri dari signifer dan signifed, sedangkan makna pada roland barthes ada pada two order of signifikasion. Pada taraf mitos masuk pada tataran two order of signifikasionnya barthes.
Posisi iklan nantinya ada pada apa yang digambarkan oleh menurut seassure yaitu pada signifer dan signifed dan pada taraf pemaknaan mealalui pemikiran barthes pada two order of signifikasion yang selanjutkan akan dilihat melalui iklan khususnya iklan L’MEN.  selanjutnya menjawab apa yang digambarkan oleh iklan L’MEN  dan jiwab oleh pikiran roland barthes  yang melanjutkan  dari pemikiran dari seassure. 

3.2. Pengertian semiotika
Secara epistimologi, istilah semiotik berasal dari kata yunani semeion yang berarti “tanda”. Tanda itu sendiri didevinisikan sebagai suatu yang atas dasar konvensi sosial yang terbangun sebelumnya, dapat dianggap mewakili suatu yang lain. eco dalam sobur (2008 : 95). 
Van zoest dalam sobur (2008 : 96). mengartikan semiotik sebagai “ilmu tanda (sign) dan segala yang berhubungan dengannya : cara berfungsinya, hubungannya dengan kata lain, pengirimannya, dan penerimaannya oleh mereka yang mempergunakannya.
            Semiotika adalah suatu ilmu atau metode analisis untuk mengkaji tanda dan makna (Sobur, 2006:15). Sebuah tanda menunjuk pada sesuatu selain dirinya sendiri yang mewakili barang atau sesuatu yang lain itu, dan sebuah makna merupakan penghubung antara suatu objek dengan suatu tanda (Hartoko dan Rahmanto, 1986:131 ). Kata “semiotika” itu sendiri berasal dari bahasa Yunani ‘semeion’ yang berarti “tanda” (Sudjiman dan Van Zoest, 1996:vii) atau ‘seme’ yang berarti ‘penafsir tanda’ (Cobley dan Jansz, 1999:4). Alex Sobur ( 2006 : 15 ) mendefinisikan semiotika adalah suatu ilmu atau metode analisa untuk mengkaji tanda,. Tanda – tanda adalah perangkat yang kita pakai dalam upaya berusaha mencari jalan di dunia ini, di tengah – tengah manusia dan bersama – sama manusia. Semiotika hendak mempelajari bagaimana kemanusiaan (Humanity) dalam memakai hal – hal (Things). Memaknai berarti bahwa objek – objek tidak hanya membawa informasi, dalam hal mana objek – objek itu hendak berkomunikasi, tetapi juga mengkonstitusi sistem terstruktur dari tanda. [10]
Pada pangertian dari kesemua para tokoh terhadap semiotika yaitu titik tumpu pada ilmu semiotika yaitu berada pada “tanda, makna, dan mitos”. secara jelas penjelasan dari tanda, makna, serta mitos telah kurang lebih di jelaskan di atas melalui penjelasan-penjelasa melalui definisi semiotika. 

3.3.  macam-macam semiotika 
 Meskipun demikian, hadirnya semotika juga memliki bermacam-macam bentuk fokus pada tanda-tanda. Macam-macam semiotika disini nantinya akan menjelaskan tentang berbagai macam semiotik dan menjelaskan tentang penalaran pada suatu tanda. Yang pada hal ini :
Pateda dalam sobur (2006:100) sekurang-kurang terdapat sembilan macam semiotik yang kita kenal sekarang :
1.      Semiotika analitik, yakni semiotika yang menganalisis sistem tanda. Peirce menyatakan bahwa semiotik berobjekkan tanda dan menganalisisnya menjadi ide, objek, dan makna. Ide dapat dikatakan sebagai lambang, sedangkan pada makna adalah beben yang terdapat dalam lambang yang mengacu kepada objek tertentu.
2.     Semiotik deskriptif, yakni semiotik yang memperhatika sisitem tanda yang dapat kita alami sekarang, meskipun ada tanda yang sejak dahulu tetap seperti yang disaksikan sekarang, misalnya, langit yang mendung menandakan hujan akan turun sebentar lagi. Sejak dahulu sampai sekarang tanda-tanda tersebut tetap sama.
3.      Semiotik faunal, yakni semiotik yang khusus memperhatikan sistem tanda yang dihasilkan oleh hewan. Contoh : jika ayam berkotek-kotek mendakan ayam ada pade fase bertelur.
4.   Semiotik kultrul, yakni semiotik yang khususnya menelaah sistem tanda yang berlaku dalam kebudayaan masyarakat tertentu. Telah diakui bahwa masyarakat sebagai makhluk sosial memiliki sistem budaya tertentu yang telah turun temurun dipertahankan dan dihormati. Budaya yang terdapat dalam masyarakat yang  juga merupakan sistem, menggunakan tanda-tanda tertentu yang membedakan dengan masyarakat yang lain. 
5.     Semiotika naratif, yakni semiotik yang menelaah sistem tanda dalam narasi yang berwujud mitos dan lisan, ada diantaranya memiliki nilai kultur yang tinggi. Itu sebabnya greimas (1987) memulai pembahasannya tentang nilai-nilai kultural ketika ia membahas persoalan semiotik naratif.
6.      Semiotik natural, yakni semiotik yang khusus menalaah sistem tanda yang dihasilkan oleh alam. Air-sungai keruh menandakan di hulu telah turun hujan, dan daun pohon-pohonan yang menguning lalu gugur. Alam yang tidak bersahabat dengan manusia misalnya banjir atau tanah longsor, sebenarnya memberikan tanda kepada manusia bahwa manusia telah merusak alam.
7.   Semiotik normatif, yakni semiotik yang khususnya menelaah sistem tanda yang dibuat oleh manusia berwujuh norma-norma, misalnya rambu-rambu lalu lintas. Diruang kereta api sering dijimpai tanda yanag bemakna dilarang merokok.
8.      Semiotik sosial, yakni semiotik yang khusu menelaah sistem tanda yang dihasilkan oleh manusia berbentuk lambang, baik lambang berwujud kata maupun lambang kata berwujud dalam satuan kalimat
9.   Semantik struktural, yakni khusus  menelaah sistem tanda yang di manifestasikan melalui struktur bahasa.
Pada hal ini, para pengiklanan di media televisi setidaknya akan mengambil salah satu dari kesembilan tersebut untuk  membuat kesan ataupun pesan di dalam menyampaikannya. Dimana yang telah di jelaskan pada pada point pertama yaitu “Semiotika analitik, yakni semiotika yang menganalisis sistem tanda. Peirce menyatakan bahwa semiotik berobjekkan tanda dan menganalisisnya menjadi ide, objek, dan makna. Ide dapat dikatakan sebagai lambang, sedangkan pada makna adalah beban  yang  terdapat dalam lambang yang mengacu kepada objek tertentu”
Ide dari pada pengiklan di gambarkan melalui pelambangan dari produknya. Yang selanjutnya dipoles sedemikian rupa “melalui realitas sosial yang diangkat menjadi realitas pada media”. Pada sasaranya tentunya ada pada konsumen yang melihat pada iklan. Sedangkan dalam pemaknaan dibuat dari pesan-pesan yang disampaikan oleh pengiklan “melalui selogan-selogan dan sebagaiannya”.
Sedangkan pada penalaran tanda dengan penandanya yaitu ada apa yang disebut dengan “qualisms, sinsigns dan legisigns”. Adapaun pengertian dari ketiganya
a.       qualisigsn        : penanda yang berkaitan dengan kualitas,
b.      sinsigns            : penanda yang bertalian dengan kenyataan.
c.       Legisigns         : penanda yang berkaitan dengan kaidah.
Qualisigsn adalah tanda-tanda yang merupakan tanda berdasarkan suatu sifat. Contoh ialah sifat “merah” semisal. Merah bisa berarti memiliki arti pemberani bagi sebagian seseorang. Merah juga bisa diartikan peringatan tanda berbahaya dan bisa juga simbol dari “cinta”. Hal itu bisa terjadi jika unsur “warna merah” di lambangkan dengan dijadikan suatu benda. Contohnya warna merah pada lampu merah dan  bendera. Pada “warna lampu merah” tanda dimuat sebagai “peringatan untuk berhentin” sedangkan warna merah pada bendera “contoh bendera indonesia” memiliki tanda rasa nasionalisme pada bangsa. 
Sinsigns adalah tanda yang merupakan tanda atas dasar tampilnya dalam kenyataan. Semua pernyataan individual yang tidak dilambangkan dapat merupakan sinsgns. Sebuah jeritan bisa berarti kesakitan, ketakutan, dan bahkan tertawaan masuk dalam sigsn.
Legisign adalah tanda-tanda yang merupakan tanda atas dasar suatu peraturan yang berlaku umum, sebuah konvensi, sebuah kode. Tanda-tanda lalu lintas merupakan legisigns. Hal itu dapat juga dikatakan dari gerak isyarat tradisional. Mengangguk petanda kode “ya, Mengerutkan alis petanda bingung atau heran, berjabat tangan berarti sepakat dan sebagiannya yang sejenis. Legisign perpaduan antara sinsgn, pada posisi signsgn yaitu ada pada posisi second dan Legisign ada pada posisi second third.[11]

3.4. Semiotika roland barthes   
Rolan barthes terkenal dengan pemikirannya yaitu (two order of signification). Pemikirannya tidak semerta-merta hadir begitu saja dibenaknya. Pemikarannya tersebut datang dari seassure yang kemudian dilanjutnya dengan apa yang dilakukan oleh barthes. Seassure terkenal dengan pemikirannya yaitu “signifer dan signifed (petanda dan penanda)” Pemikiran barthes tergambar melalui dibawah ini :


                    Sumber: Alex Sobur: Analisis Teks Media, 2006 : 127  



Barthes menjelaskan bahwa signifikasi tahap pertama merupakan hubungan antara signifier dan signified dalam sebuah tanda terhadap realitas ekternal. Barthes menyebutnya sebagai denotasi, yaitu makna paling nyata dari tanda. Konotasi adalah istilah yang digunakan Barthes untuk menunjukkan signifikasi tahap kedua. Hal ini menggambarkan interaksi yang terjadi ketika tanda bertemu dengan perasaan atau emosi dari pembaca serta nilai-nilai dari kebudayaannya. Konotasi mempunyai makna yang subjektif atau paling tidak intersubjektif. Pemilihan kata-kata kadang merupakan pemilihan terhadap konotasi.
Dengan kata lain, denotasi adalah apa yang digambarkan tanda terhadap suatu objek, sedangkan konotasi adalah bagaimana menggambarkannya. Pada signifikasi tahap kedua yang berhubungan dengan isi, tanda bekerja melalui mitos (myth). Mitos adalah bagaimana kebudayaan menjelaskan atau memahami beberapa aspek tentang realitas atau gejala alam. Mitos merupakan kelas sosial yang sudah mempunyai suatu dominasi. Dalam bukunya yang terkenal, S/Z (1970), Barthes berupaya untuk mengeksplisitkan kode-kode narasi yang berlaku dalam suatu naskah. Lima kode yang ditinjau Barthes adalah kode hermeneutik (kode teka-teki), kode semik (makna konotatif), kode simbolik, kode proaretik (logika tindakan), dan kode gnomik atau kode kultural.[12]
[13] Selanjutnya Barthes dalam Sobur (2006: 65), menjelaskan kode-kode tersebut sebagai berikut;
a. Kode Hermeneutik atau kode teka-teki berkisar pada harapan pembaca untuk mendapatkan “kebenaran” bagi pertanyaan yang muncul dalam teks. Kode teka-teki merupakan unsur struktur yang utama dalam narasi tradisional. Di dalam narasi ada suatu kesinambungan antara pemunculan sesuatu peristiwa teka-teki dan penyelesaiannya di dalam cerita.
b. Kode Semik atau kode konotatif banyak menawarkan banyak sisi. Dalam proses pembacaan, pembaca menyusun tema suatu teks. Ia melihat bahwa konotasi kata atau frase tertentu dalam teks dapat dikelompokkan dengan konotasi kata atau frase yang mirip.
c. Kode Simbolik merupakan aspek pengkodean fiksi yang paling khas bersifat struktural, atau tepatnya menurut konsep Barthes, pascastruktural. Hal ini didasarkan pada gagasan bahwa makna berasal dari beberapa oposisi biner atau pembedaan, baik dalam taraf bunyi menjadi fonem dalam proses produksi wicara, maupun pada taraf oposisi psikoseksual yang melalui proses.
d. Kode Proaterik atau kode tindakan/lakuan dianggapnya sebagai perlengkapan utama teks yang dibaca orang. e. Kode Gnomik atau kode kultural banyak jumlahnya. Kode ini merupakan acuan teks ke benda-benda yang sudah diketahui dan dikodifikasi oleh budaya.

3.5. semiotika pada iklan
Media televisi dengan hadirnya beragam tontonan dan tanyangan informasainya. Serta juga menumpuknya iklan-iklan pada media televisi  yang tentunya mempunyai tujuan-tujuan tertentu. Pada hal ini tentunya pengklarifikasian iklan sangat diperlukan sebab dilihat dari tujuan tayangan pengiklananya. Iklan terdiri dari dua macam, iklan komersial atau iklan non komersial. Iklan komersial bertujuan untuk mengajakan yang melihat iklan tersebut tertarik dalam membeli produknya. Sedangkan pada iklan non komersil lebih pada pengetahuan dan informasi mengenai layanan masyarakat  
Di dalam pengiklanan tentunya terdiri pelbagai tanda-tanda dan makna yang ingin di sampaikan ke pada para aundiens selaku yang melihat dari iklan tersebut. fungsi dari semiotika pada iklan tentunya mengajak aundiens untuk mngetahui maksud dari apa yang ditampilkan oleh iklan tersebut. tanda-tandanya bisa berupa dari pesan pesan dari figur atau aktris yag ditampilkan oleh si pengiklan produk tersebut. ataupun bisa juga dengan bahasa-bahasa verbal dengan dipadukan dengan visual melalui alur cerita dari si pengiklan.
Senada dengan itu barthes telah menyinggung itu melalui penelitiannya pada bahasa teks melalui semiotiknya mengenai “konotasi dan denotasi”. denotasi adalah apa yang digambarkan tanda terhadap suatu objek, sedangkan konotasi adalah bagaimana menggambarkannya.
Sebagai contoh iklan L’MEN, iklan ini menggambarkan seorang figur laki-laki berotot dan juga perempuan seksi. Perempuan tersebut menjatuhkan anting berlian kedalam kolam. Yang selanjutnya direspon oleh kedua laki-laki pada yang di gambarkan oleh iklan L’MEN. Ketika kalung itu dijatuhkan ke dalam kolam renang, kedua laki-laki tersebut berlari dan melocat ke dalam kolam renang sembari berkompetisi mengambil anting berlian untuk diserahkan kepada wanita sexi itu. namun yang menang pada kompetisi tersebut adalah laki-laki yang berotot. Scane selanjutnya melihatkan lawan dari laki-laki berotot tersebut yang sedang malu  akibat kekalahannya dan melihat tubuh berotot dari sipemenang.
Pada contoh ini denotasi berada pada kalung yang dilemparkan kedalam kolam renang “yang bertanda persaingan kepada kedua laki-laki tersebut”. selanjutnya badan berotot yang ditampilkan oleh figur L’MEN juga termasuk denotasi dengan penggambaran dari laki-laki yang suka berkompetisi dan sering memenagi kompetisi. Pada konotasi digambarkan dengan laki-laki yang langsung sigap merespon oleh yang ditandakan pada siperempuan sexsi dari iklan L’MEN tersebut dengan langsung meloncat kedalam kolam dan selanjutnya memberikan anting berlian itu kepada wanita sexi tersebut. 
  
3.6.PENUTUP
semiotika adalah ilmu yang mempelajari tanda-tanda yang ada pada kehidupan manusia. semiotika juga mempelajari ilmu tanda (sign) dan  yang berhubungan dengan cara memfungsikannya, hubungannya dengan kata lain, pengirim dari yang memberikan tanda, dan penerimaa dari yang memberikan. Macam-macam semiotika terdiri dari “semiotika analitik, semiotika deskriptif, semiotika faunal, semiotika kultur, semiotika naratif, semiotika natural, semiotika normatif, semiotika sosial, dan semiotika struktural” kurang lebih ada sebilan macam jenis. Pada penalaran tanda terdiri dari 3 yaitu “qualisigsn, sinsigns, Legisigns.
Semiotika yang diperkenalkan oleh barthes yaitu dikenal dengan two order signification. Makna konotasi dan detosi pada tanda adalah yang dipirkan oleh barthes. Mitos pada kebudayaan adalah singgungan dia kepada apa yang di petandakan dari pada two order signification.
Iklan yang sarat dengan tanda-tanda pada yang ditampilkan juga memperllihatkan itu. dimana pada iklan L’MEN, makna dari pada konotasi dan juga denotasi pada iklan L’MEN telah bermain disitu. Dan seolah menyihir sipelihatnya untuk masuk pada yang digambarkan oleh iklan tersebut. makna tanda “denotasi dan konotasi” dibuat semenarik mungkin oleh si pengiklan melaui konsep dan figur pada iklan L’MEN  agar apa yang digambarkan melalui iklan tersebut pemaknaannya dimengerti oleh sipelihat iklan.



Daftar pustaka
Sobur A. 2006. analisis teks media (suatu pengantar untuk analisis wacana, analisis semiotik, dan analisis framing). Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Muzakki A. 2007. Konstribusi semiotika dalam memahami bahasa agama. Malang: UIN-Malang.
Anshori F. 2014. “representasi sensualitas perempuan dalam iklan (analisis semiotika roland barthes terhadap iklan parfum axe versi heaven on earth di televisi. Skripsi. Diterbitkan. Uin Yogyakarta







BAB 4 MASKULINITAS PADA IKLAN
4.1.Pendahuluan
Maskulinitas dan feminimitas sering kali dibicarakan ketika berbicara mengenai gender. Gender berbeda dengan alat kelamin, gender adalah keadaan sifat yang dibawa sejak kecil yang disesuaikan melalui bawaan alat kelamin yang selanjutkan diarahkan oleh lingkungannya untuk menjadi sesuai dengan kodrat kelaminnya.
Perempuan maupun laki-laki dikatakan “laki-laki ataupun perempuan” jika mememiliki kebiasaan umum pada kesifatan antara laki-laki ataupun perempuan. maksudnya disini, bawaan sifat “laki-laki” akan dikatakan seorang laki jika memiliki bawaan sifat laki-laki. Contoh, sifat laki-laki yaitu kuat, keras, agresif dll yang sejenis”. Pada perempuan,  akan dikatakan wanita jika persifatannya “lemah, lembut, halus dan lain-lain yang sejenis.
Kembali pada maskulinitas, konsep maskulinitas juga telah digambarkan melalui periklanan yang diambil melalui realitas sosial yang kemuadian diangkat kedalam realitas media khususnya iklan. Penggambar dan pensifatan  laki-laki maskulin di dalam periklanan digambarkan melalui seting tempat, tempat-tempat adventue seperti gunung, pantai,dll yang dianggap pas untuk seorang laki-laki.
Pengiklan menggambarkan konsep maskulinitas melalui yang ditampilkan oleh iklan dengan figur yang dianggap cocok untuk profil maskulin. Penggambar maskulinitas di dalam iklan juga merupakan logo laki-laki berprofil tampan pada era sekarang ini. Hal ini dilakukan oleh pengiklan semata-mata untuk lebih meng ekspansi produk yang di iklankan ke pada khalayak ramai. 

4.2.Pengertian Dan Sifat Dari Maskulinitas
Maskulinitas dikenal sebagai teori dari sosiolog gender melalui Connel pada tahun 1987. Dia juga berbicara tentang maskulinitas hegemonic yang menenkankan pada seperangkat asumsi dan keyakinan tentang maskulinitas yang dapat dimengerti oleh akal sehat. Sebuah perbedaan penting dibuat dari awal antara maskulinitas hegemonic dan pengertian tentang “peran lak-laki. Maskulinitas hegemonic juga berkaitan dengan yang didamba-dambakan oleh seorang laki-laki meliputi “kekuatan dan kekayaan” (mackinnon, :2003 :9)[14]
Pengertian maskulinitas berasal dari kata (masculine), yang oleh shorter oxford english dictionary (1973) di definisikan sebagai : keunggulan yang dianggap perlu untuk dimiliki oleh sekelompok jenis kelamin laki-laki ; (bersifat) jantan, memiliki kekuatan fisik dan berkuasa. Sedangkan difinisi utama dari laki-laki lebih sederhana, yaitu memiliki seks yang melahirkan keturunan, atau melakukan fngsi perkawinan (cornal, 1994 :11)[15]
            [16]Bentuk dari maskulinitas hegemonik pada dasarnya tidak terlalu tergambarkan melalui kontruksi budaya. Kepribadian ini sebenarnya dari sebagian laki-laki menunjukkan kepada sedikit korespodensi dan cita-cita kontruksi budaya maskulin. Berbagai macam bentuk maskulin tersebut disajikan oleh budaya populer, seperti yang diwakilkan oleh militer, pembisnis dan sebagainya yang sejenis. Pembentukan hegemoni maskulinitas ini, kemudian dipromosikan melalui televisi, filim, iklan, olahraga dan bentuk media massa lain yang diteruskan ke masyarakat luas.
[17]Dari masa ke masa, konsep maskulinitas telah mengalami perkembangan. Hal tersebut dikemukakan Beynon dalam Nasir dalam Demartoto (2010: 8), yang membagi konsep maskulinitas dalam setiap dekade menjadi 4
waktu, yaitu maskulin sebelum tahun 1980-an, maskulin tahun 1980-an, maskulin tahun 1990, dan maskulin tahun 2000-an.  Dari keempat kelompok tersebut dapat ditarik sifat-sifat maskulinitas seperti berikut:
1) No Sissy Stuff: Seorang laki-laki sejati harus menghindari perilaku atau karakteristik yang berasosiasi dengan perempuan.
2) Be a Big Wheel: Maskulinitas dapat diukur dari kesuksesan, kekuasaan, dan pengaguman dari orang lain. Seseorang harus mempunyai kekayaan, ketenaran, dan status yang sangat lelaki. Atau dalam masyarakat Jawa: seorang laki-laki dikatakan sukses jika berhasil memiliki garwo (istri), bondo (harta), turonggo (kendaraan), kukiro (burung peliharaan), dan pusoko (senjata atau kesaktian).
3) Be a Sturdy Oak. Kelelakian membutuhkan rasionalitas, kekuatan, dan kemandirian. Seorang laki-laki harus tetap bertindak kalem dalam berbagai situasi, tidak menunjukkan emosi, dan tidak menunjukkan kelemahannya.
4) Give em Hell: Laki-laki harus mempunyai aura keberanian dan agresi, serta harus mampu mengambil risiko walaupun alasan dan rasa takut menginginkan sebaliknya.
5) New man as nurturer: Laki-laki mempunyai kelembutan sebagai seorang bapak, misalnya, untuk mengurus anak, melibatkan peran penuh laki-laki dalam arena domestik. 
6) New man as narcissist: Laki-laki menunjukkan maskulinitasnya dengan gaya hidup yuppies yang flamboyan dan perlente, laki-laki semakin suka memanjakan dirinya dengan produk-produk komersial properti, mobil, pakaian atau artefak personal yang membuatnya tampak sukses.
7) Sifat kelaki-lakian yang macho, kekerasan, dan hooliganism, laki-laki membangun kehidupannya di sekitar football atau sepak bola dan dunia minum-minum, juga sex dan hubungan dengan para perempuan, mementingkan leisure time, bersenang-senang, menikmati hidup bebas seperti apa adanya bersama teman-temannya, bersenang-senang, menyumpah, menonton sepak bola, minum bir, dan membuat lelucon-lelucon yang dianggap merendahkan perempuan.
8) Laki-laki metroseksual mengagungkan fashion, mungkin mirip dengan tipe maskulin yang ada di tahun 1980-an, bahkan mungkin sama. Laki-laki metroseksual adalah orang-orang yang peduli dengan gaya hidup yang teratur, menyukai detail, dan cenderung perfeksionis.
            Namun pada dasarnya, pengertian dari maskulinitas yang sebenarnya tidak ada satupun yang menjelas sosok maskulinitas yang sesungguhnya. Masing-masing pada yang mendifinisikan maskulinitas terletak pada “dia memiliki kekuasaan dan dominasi”. Secara ekplisit, pengertian dari maskulinitas dibuat untuk kepentingan para penguasa. Yang selanjutnya Asumsi-asumsi maskulinitas tersebut secara cepat berkembang dikehidupan masyarakat. kemudian secara cepat juga berubah menjadi idiologi maskulinitas baru[18]
  
4.3 Maskulinitas Sebagai Profi Tampan Pada Iklan
Maskulinitas yang sering kali digambarkan oleh iklan seringkali mengalami perubahan sejalan dengan berkembangnya periklanan. Penggambaran maskulinitas dikembangkan menjadi sebuah wacana baru yang dikembangkan atau digambarkan melalui sebuh iklan.
Pada penggambaran maskulinitas, [19]penggambaran  laki-laki dilihat dari  penampilan kejantanannya dengan memilki sifat dominan, berani, dewasa, sosok seorang pemimpin, kuat, rasional, perkasa dll. senada dengan itu, maskulinitas di dalam penggambaran di dalam iklanpun juga sama seperti itu. Dimana sosok-sosok maskulinitas di dalam iklan menggambarkan laki-laki pemberani, perkasa, otot-otot yang kuat dan lain-lain yang sejenis. Secara langsung  ini seolah menggambarkan laki-laki “dikatakan benar-benar laki jika bentuk ke laki-lakinya hampir sama dengan yang di gambarkan oleh iklan yang sering menampilkan kemaskulinannya”
       Iklan melalui karakter yang coba dilekatkan dengan modelnya berusaha membuat sebuah kondisi tentang bagaiman menjadi laki-laki sejati. Maskulinitas laki-laki dalam iklan sering digambarkan seperti yang telah di singgung diatas ; fisik yang besar, agresif, pemberani, prestatif, dominan dll. serta dimitoskan sebagai pelindung, kuat, rasional, jantan dan perkasa. Selain itu iklan juga menunjukan kejantanan dan  keperkasaan  laki-laki melalui aktifitas-aktifitas yang dilakukan laki-laki seperti mengangkat beban, berkelahi, berolahraga, berpetualang, dan lain-lain. aktifitas yang dimaksud adalah hal-hal yang dilakukan oleh model laki-laki yang pada akhirnya dihubungkan dengan asosiasi kalau melakukan kegiatan tersebut, maka sosok yang bersangkutan dipersepsikan sebagai sosok kuat.[20]
Gambaran dari keindahan fisik model laki-laki yang sering dijumpai pada periklanan yang ada sekarang ini merupakan penggambaran secara ekplisit mengenai maskulinitas. Bagaimana maskulinitas yang diangkat oleh media tevisi khususnya iklan “menjadi asusmi dasar bagi sebagian orang mengenai maskulinitas”. Dimana maskulinitas pada realitas sosial di persepsikan harus melalui penyesuaian dan penyamaan seperti yang digambarkan oleh media iklan.
Hal ini sejalan nantinya dengan profil tampan yang disetarakan dengan maskulinitas. Karena maskulinitas selalu di gambarkan melalui media-media khusus dengan  iklan. Terperangkaplah orang dengan  konsepsi  maskulinitas.  yang pada hal ini,  antara maskulinitas dengan profil tampan berjalan seiringan. Maksudnya profil tampan hadir sesuai dengan  konsepsi maskulinitas. Peran media yang selalu intesn menampilkan gambaran maskulinitas melalui iklan. Yang membuat seseorang terus menerus-menerus mengaitkan “kamu maskulin berarti km masuk pada profil tampan”. Secara abstrak media ingin menjelaskan itu secara perlahan lahan. Berbagai kepentingan di dalam itulah yang membuat definisi maskulinitas dapat diakui sesuai dengan yang melakukan difinisi ini “komunitas yang memiliki kuasa dominan” . legalitas masyarakat hadir mengenai maskulinitas sebagai profil tampan melalui yang ditampilkan oleh media khususnya iklan.

4.4.Penutup
Maskulinitas dikenal sebagai teori dari sosiolog gender melalui Connel pada tahun 1987. Dia juga berbicara tentang maskulinitas hegemonic yang menenkankan pada seperangkat asumsi dan keyakinan tentang maskulinitas yang dapat dimengerti oleh akal sehat.
Bentuk dari maskulinitas hegemonik pada dasarnya tidak terlalu tergambarkan melalui kontruksi budaya. Kepribadian ini sebenarnya dari sebagian laki-laki menunjukkan kepada sedikit korespodensi dan cita-cita kontruksi budaya maskulin. Berbagai macam bentuk maskulin tersebut disajikan oleh budaya populer, seperti yang diwakilkan oleh militer, pembisnis dan sebagainya yang sejenis. Pembentukan hegemoni maskulinitas ini, kemudian dipromosikan melalui televisi, filim, iklan, olahraga dan bentuk media massa lain yang diteruskan ke masyarakat luas. Sedangkan sifat maskulinitas terdiri dari “No Sissy Stuff, New man as narcissist ,Be a Big Wheel, Be a Sturdy Oak, Give em Hell, New man as nurturer, maco, dan mentroseksual.
pada maskulinitas dan profil tampan pada iklan, sering kali digambarkan dari keindahan fisik model laki-laki yang sering dijumpai pada periklanan yang ada sekarang ini. Hal ini merupakan penggambaran secara ekplisit mengenai maskulinitas. Bagaimana maskulinitas yang diangkat oleh media tevisi khususnya iklan “menjadi asumsi dasar bagi sebagian orang mengenai maskulinitas”. Dimana maskulinitas pada realitas sosial di persepsikan harus melalui penyesuaian dan penyamaan seperti yang digambarkan oleh media iklan. 
Hal ini sejalan nantinya dengan profil tampan yang disetarakan dengan maskulinitas. Karena maskulinitas selalu di gambarkan melalui media-media khusus dengan  iklan. Terperangkaplah orang dengan  konsepsi  maskulinitas.  yang pada hal ini,  antara maskulinitas dengan profil tampan berjalan seiringan. Maksudnya profil tampan hadir sesuai dengan  konsepsi maskulinitas. Peran media yang selalu intesn menampilkan gambaran maskulinitas melalui iklan. Yang membuat seseorang terus menerus-menerus mengaitkan “kamu maskulin berarti km masuk pada profil tampan”. Secara abstrak media ingin menjelaskan itu secara perlahan lahan. Berbagai kepentingan di dalam itulah yang membuat definisi maskulinitas dapat diakui sesuai dengan yang melakukan difinisi ini “komunitas yang memiliki kuasa dominan” . legalitas masyarakat hadir mengenai maskulinitas sebagai profil tampan melalui yang ditampilkan oleh media khususnya iklan.



Daftar pustaka

Anggraheny J.2012.“representasi maskulinitas pada iklan cetak minuman vodka (kajian semiotik).skripsi.program studi sastra indonesia. Universitas indonesia

Anshori MF.2014. “maskulinitas dalam iklan televisi(analisi semiotika iklan extra joss blend bukan php versi “verrel bramasta” menurut roland barthes)”.skripsi.fakultas ilmu sosial dan humaniora. UIN sunan kalijaga yogyakarta

Widiyaningrum W.2014. “pemaknaan maskulinitas dalam iklan produk kosmetik untuk laki-laki” .skripsi. fisip.universitas diponegoro semarang





[1]Pada jurnal “pengaruh celebrity endoser dan kualitas produk terhadap keputusan pembelian melalui cintra merek pada kosmetik warda dikota semarang”. Hal 172
[2] Pada buku “konstribusi semiotika dalam memahami bahasa agama”. Hlm 14
[3]Pada internet “www.kompasiana.com tentang pengertian media massa”.
[4]Pada buku “teori dasar komunikasi pengolakan, dan masa depan massa” hal 61
[5]Pada buku Kontruksi Sosial Media Massa “kekuatan pengaruh media massa, iklan televisi dan keputusan konsumen serta krtik terhadap Peter L. Berger dan Thomas Luckman” hal 107
[6]Ibid
[7]Pada buku Kontruksi Sosial Media Massa “kekuatan pengaruh media massa, iklan televisi dan keputusan konsumen serta krtik terhadap Peter L. Berger dan Thomas Luckman”. Hal 111
[8]Pada buku Kontruksi Sosial Media Massa “kekuatan pengaruh media massa, iklan televisi dan keputusan konsumen serta krtik terhadap Peter L. Berger dan Thomas Luckman
[9]Pada buku “konstribusi semiotika dalam memahami bahasa agama” hal 11
[10]Pada skripsi “representasi sensualitas perempuan dalam iklan (analisis semiotika roland barthes terhadap iklan parfum axe versi heaven on earth di televisi)” hal 30

[11]Pada buku “analisis teks media (suatu pengantar untuk analisis wacana, analisis semiotik, dan analisis framing)” hal 97-98
[12]Pada skripsi “representasi sensualitas perempuan dalam iklan (analisis semiotika roland barthes terhadap iklan parfum axe versi heaven on earth di televisi)” hal 32-33
[13]ibid
[14] Pada  skripsi “pemaknaan maskulinitas dalam iklan produk kosmetik untuk laki-laki” hal 6
[15]ibid
[16]pada skripsi “representasi maskulinitas pada iklan cetak minuman vodka(kajiansemiotik)” pada  hal 29
[17]Pada skripsi “maskulinitas dalam iklan televisi(analisi semiotika iklan extra joss blend bukan php versi “verrel bramasta” menurut roland barthes)” hal 22-23
[18]pada skripsi “representasi maskulinitas pada iklan cetak minuman vodka (kajian semiotik) hal 28
[19]Pada  skripsi “pemaknaan maskulinitas dalam iklan produk kosmetik untuk laki-laki” hal 4
[20] Pada  skripsi “pemaknaan maskulinitas dalam iklan produk kosmetik untuk laki-laki” hal  5

Sosiologi berfikir

Artikel bernuansa sosiologis melalui teori dari tokoh-tokoh sosiologi.. @ emil durkheim @ marx weber @ karl marx @ michel foucoult @ antoni giden @ dll

About

Follow Us

artikel bernuansa sosiologis

sosiologi