Profil
ketampanan dalam bingkai maskulinitas yang ditampikan oleh media televisi
melalui iklan L’MEN
Oleh februdi akbar
Nim 130910302014
PROGRAM
STUDI SOSIOLOGI
FAKULTAS
ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS
JEMBER
2015
BAB
1. PENDAHULUAN
1.1.Mengapa
harus mengkaji “profil ketampanan dalam bingkai maskulinitas yang ditampilkan oleh
media televisi melalui media iklan L’MEN”
Dewasa ini perbincangan mengenai profil ketampanan
sangat luas sekali. Dimana profil dari ketampanan itu sendiri memiliki makna dan nilai yang monumental di dalam
masyarakat. makna dan nilai dari profil ketampanan itu sendiri dapat terjadi ataupun
tergambar melalui peran dari seorang laki-laki melaui tingkah laku dan kerja.
Profil ketampanan juga mengalami fluktuatif seiring
dengan perkembangan zaman. Salah satu contoh misalnya profil ketampanan yang
ditampilkan oleh masyarakat madura. Dulu penggambaran orang madura mengenai
profil tampan di masyarakat yaitu dengan simbol atau tanda-tanda kejantanan
melalui bentuk kerja dan tingkah lakunya. Profil Ketampanan orang madura bukan berdasarkan warna kulit putih, wajah tirus, brewok, ataupun profil ketampanan pada era sekarang
ini yang sebagian besar disimbolkan melalui profil ketampanan seperti orang
korea.
hal tersebut terjadi akibat dari perkembangan dunia media.
Yang pada hal ini, media melakukan semacam propaganda pembentukan rasionalitas
media melalui iklan, informasi, bahkan film. Yang selanjutnya pembentukan
rasionalitas media diturunkan menjadi rasionalitas sosial. Pada taraf ini
rasionalitas media menampilkan figur laki-laki tampan melalui laki-laki yang di
gambarkan seperti orang eropa dan korea. bingkai maskulinitas juga sering
ditmpilkan iklan melalui bentuk ; kulit
putih, wajah tirus, brewok .
Lebih jauh hal tersebut menjadi sebuah rasionalitas sosial pada takaran profil
ketampanan pada sekarang ini.
hal itu sangat bertolak belakang pada profil ketampanan
pada orang madura yang sejatinya terletak pada tingkah laku dan bentuk kerja. Profil
ketampanan itu sendiri ditampilkan dengan Simbol melalui Tingkah laku dan bukan
bersifat fisik tertentu. Karena pada profil ketampanan orang madura pada
dasarnya tidak memiliki profil ketampanan pada era sekarang yang disimbolkan
dengan profil ketampanan seperti orang eropa dan korea.
Adanya media massa seperti halnya media televisi
secara tidak langsung mempengaruhi dari pada
profil tampan pada masyarakat. Seperti yang kita ketahui, media televisi
merupakan alat yang sangat ampuh dalam menjangkau masyarakat luas mengenai apa
yang ditampilkan di media tersebut. hal tersebut juga tidak menampik pada
profil ketampanan yang ditampilkan oleh media massa khususnya iklan.
Shimp
(2003) berpendapat bahwa celebrity endorser adalah menggunakan artis
sebagai bintang iklan di media-media, mulai dari media cetak, media sosial,
maupun media telivisi. Selain itu selebriti digunakan karena atribut
kesohorannya termasuk ketampanan, keberanian, talenta, keanggunan, kekuatan,
dan daya tarik fisiknya yang sering mewakili daya tarik yang diinginkan oleh
merek yang mereka iklankan.
Hal ini secara tidak langsung pada
benak masyarakat luas representasi dari
celebrity endoser menjadi sebuah asumsi dasar pada sebuah profil
ketampanan. Maksudnya profil tampan akan disimbolkan pada orang tertentu jika
orang tersebut menyamai ataupun hampir
sama dengan artis pada yang ditampilkan media ataupun media massa pada iklan.
Pada iklan, maskulinitas juga sering dihadirkan pada penggambraannya melalui
gerak, fisik, gaya dan sejenisnya.
Selanjutnya mengapa harus mengkaji “profil ketampanan
dalam bingkai maskulinitas yang ditampilkan oleh media televisi melalui media
iklan L’MEN”..? dengan melakukan pengkajian tentang hal di atas, tentunya dapat
menjadi sebuah wacana, referensi, tambahan ilmu, atupun sekedar objek bacaan
bagi yang membacanya. Namun pada takaran penulis, hal ini sebagai ajang untuk “mengetahui
profil ketampanan dalam bingkai maskulinitas yang ditampilkan oleh media
televisi melalui media iklan L’MEN pada era sekarang ini melaui maraknya media
iklan” dengan menampilkan figur-figur laki-laki tertentu sesuai dengan iklan yang terkait. Pada kajian ini, penulis
hanya memfokuskan pada iklan L’MEN. Tidak berhenti disitu, Penulis juga ingin
menarik persepsi mahasiswa pada takaran terkecil yaitu “anak soiologi 2013” profil
ketampanan dalam bingkai maskulinitas yang ditampilkan oleh media televisi
melalui media iklan L’MEN
Sebagai realita, media
massa yang ditampilkan iklan L’MEN benar adanya. Juga pergesaran mengenai
konsep profil ketampanan pada tataran individu era sekarang ini juga benar
adanya. Mengacu pada peran cabang ilmu semiotika, “sementara dalam konsep peirce simbol diartikan sebagai tanda yang mengacu pada obyek tertentu di
luar tanda itu sendiri. hubungan antara simbol sebagai penanda dengan sesuatu
yang sifat konvensional. Berdasarkan konvensi itu pula masyarakat pemakainya
menafsirkan ciri hubungan antara simbol dengan obyek yang diacunya dan
menafsirkan maknanya”.
pernyataan
diatas seolah mengatakan secara halus, pada pernyataan peirce “masyarakat
pemakainya menafsirkan ciri
hubungan antara simbol dengan obyek yang diacunya dan menafsirkan maknanya”. atau jika di
perhalus dan di persempit lagi, yang
disimbolkan dari iklan L’MEN pada “masyarakat pemakainya” yaitu ada pada yang
disimbolkan oleh figur atau tokoh yang memerankan pada iklan L’MEN. Secara
tidak sadar simbol tersebut seolah memperkokoh atau memperkuat simbol pada diri
figur atau tokoh yang ditampikan dari iklan yang terkait. Hal ini dilakukan
sebagai penyampaian simbol yang legalitas pada iklan tersebut.
selanjutnya figur
yang dipusatkan sebagai obyek akan memainkan peran untuk seolah mewakilkan dari bagian
masyarakat yang ada di dalamnya agar di
legalitas keadaanya “fisik yang meliputi warna kulit, bentuk wajah, gayanya dll
pada iklan tersebut”. Disini dia memainkan peran agar masyarakat umum yang
belum tau akan iklan L’MEN yang ketika
melihatnya menjadi mengikuti asumsi dasar yang di simbolkan oleh iklan L’MEN
tersebut. terakhir, asumsi pada makna selanjutnya akan terus
bertumpu pada simbol yang di tampilkan oleh iklan L’MEN.
Dengan adanya contoh kasus yang di usung diatas, dan
selanjutnya akan menjadi sebuah kajian bagi penulis yaitu tentang “profil
ketampanan dalam bingkai maskulinitas yang ditampilkan oleh media televisi
melalui media iklan L’MEN”. Dengan
demikian maka bagi penulis hal ini akan menjadi sebuah pengalaman pertama dalam
menulis kajian tentang profil
ketampanan. ataupun bagi pembaca hal ini bisa sebagai ajang wacana, referensi,
tambahan ilmu, atupun sekedar objek bacaan seperti yang sudah penulis singgung
di atas. Karena dari kajian ini, nantinya juga dapat menjadi sebuah renungan
bersama agar tidak gampang terpengaruh dan memasuki asumsi dasar yang
ditampilkan oleh media khususnya melalui media iklan.
1.2.
Lingkup kajian mengenai “profil ketampanan dalam bingkai maskulinitas yang
ditampilkan oleh media televisi melalui media iklan L’MEN”
Lingkup kajian mengenail profil ketampanan melalui
media iklan yaitu berada pada pada media televisi yang menjadi obyek
pengamatanan nantinya melalui iklan L’ MEN.
Selanjutnya lingkup persoalan
pada kajian mengenai profil ketampanan diantaranya sebagai berikut :
- Apa
yang sebernanya akan di kaji pada “profil ketampanan dalam bingkai maskulinitas
yang ditampilkan oleh media televisi melalui media iklan L’MEN”..? Yang akan dikaji disini, titik tekannya
berada pada bagaimana posisi perilaku maskulinitas. yang selanjutnya
maskulinitas menjadi bingkai dari profil ketampanan.
- . Bagaimana
profil ketampanan dalam bingkai maskulinitas yang ditampilkan oleh media
televisi melalui media iklan L’MEN dapat terjadi..? Hal ini terjadi akibat dari wacana yang
sering digambarkan oleh media televisi
melalui iklan yang selalu menggambarkan sosok
laki-laki maskulin. Penggambaran maskulin yang di gambarkan pada iklan L’MEN Ada
pada penggambaran fisik dan latar tempat.
- . Apa
tujuan dari pengambaran profil
ketampanan dalam bingkai maskulinitas yang ditampilkan oleh media televisi
melalui media iklan L’MEN.? Penggambaran dari iklan L’MEN seolah
berbau “Propaganda” dimana posisi dari maskulinitas melalui yang ditampikan
oleh iklan L’MEN menjadi penggambaran sosok profil dari ketampanan.
- Mengapa
pengambaran profil ketampanan dalam
bingkai maskulinitas yang ditampilkan oleh media televisi melalui media iklan
L’MEN terjadi.? Tentunya dari pengambaran yang ditampilkan oleh
iklan dengan “profil ketampanan dalam
bingkai maskulinitas yang ditampilkan oleh media televisi melalui media iklan
L’MEN”. Adanya sebab musababnya peralihan profil ketampanan jadi alasan dari ke
indetikannya dengan bingkai maskulinitas.
1.3. Tujuan dilakukannya kajian mengenai “profil
ketampanan dalam bingkai maskulinitas yang ditampilkan oleh media televisi
melalui media iklan L’MEN”
Tujuan dilakukannya mengenai profil ketampanan dalam
bingkai maskulinitas yang ditampilkan oleh media televisi melalui media iklan
L’MEN adalah sebagai berikut:
- Kajian
dari “profil ketampanan dalam bingkai maskulinitas yang ditampilkan oleh media
televisi melalui media iklan L’MEN” yaitu untuk mengetahui jalannya
maskulinitas pada iklan L’MEN melalui ilmu semiotik
- . Dengan
melakukan kajian “profil ketampanan dalam bingkai maskulinitas yang ditampilkan
oleh media televisi melalui media iklan L’MEN dapat mengetahui perjalanan
profil ketampanan yang menjadi dasar dari bingkai maskulinitas pada iklan L’MEN
melalui ilmu semiotik.
- . Kajian
mengenai “profil ketampanan dalam bingkai maskulinitas yang ditampilkan oleh
media televisi melalui media iklan L’MEN” diharapkan mampu mengetahui tujuan
dari hadirnya maskulinitas pada iklan L’MEN.
- Kajian
mengenai “profil ketampanan dalam bingkai maskulinitas yang ditampilkan oleh
media televisi melalui media iklan L’MEN” diharapakan mampu mengetahui
sebabmusababnya dan fungsi hadirnya maskulinitas pada iklan L’MEN melalui ilmu
semiotik
1.4. Signifikasi kajian mengenai “profil
ketampanan dalam bingkai maskulinitas yang ditampilkan oleh media televisi
melalui media iklan L’MEN”
Hadirnya media televisi dengan keunggulannya di
dalam menyampaikan informasi dan periklanan kepada khalayak ramai. Menjadi
sebuah hal yang harusnya dicermati, pada taraf pemaknan pada simbolisai yang
digambarkan iklan L’MEN. Maka dari itu, penulis disini menarik Signifikasi pada kajian “profil ketampanan
dalam bingkai maskulinitas yang ditampilkan oleh media televisi melalui media
iklan L’MEN” yang terletak pada :
- Pertama,
kajian “profil ketampanan dalam bingkai maskulinitas yang ditampilkan oleh
media televisi melalui media iklan L’MEN” yaitu untuk mengetahui signifikan
dari profil tampan yang di identikan melalui maskulinitas pada iklan L’MEN dengan
ilmu semiotik. Adanya kajian ini juga
sebagai tambahan referensi pada penelitian selanjutnya untuk mengembangkan
kajian yang serupa.
- Kedua,
kajian “profil ketampanan dalam bingkai maskulinitas yang ditampilkan oleh
media televisi melalui media iklan L’MEN” signifikasinya terletak pada pergeseran
profil ketampanan melalui hadirnya penggambaran maskulinitas pada iklan dengan
ilmu semiotik. Dengan mengetahui hal itu, dapat menjadi pembanding bagi
peneliti untuk penelitian sebelumnya dan untuk kedepan pada kajian yang serupa.
1.5.. Sistematika Penulisan
Sitematika
penulisan kajian “profil ketampanan dalam bingkai maskulinitas yang ditampilkan
oleh media televisi melalui media iklan L’MEN” diantaranya sebagai berikut :
Dalam bab pertama ini terdiri dari
alasan mengapa dilakukanya penelitian suatu kajian “profil ketampanan dalam
bingkai maskulinitas yang ditampilkan oleh media televisi melalui media iklan
L’MEN”. Setiap alasan-alasan yang menjadi landasan dalam melakukan kajian mengenai
“profil ketampanan dalam bingkai maskulinitas yang ditampilkan oleh media
televisi melalui media iklan L’MEN” yang dipaparkan pada pokok pembahasan
bagian pertama.
Lingkup kajian mengenai “profil
ketampanan dalam bingkai maskulinitas yang ditampilkan oleh media televisi
melalui media iklan L’MEN” yaitu membahas akan permasalahan-permasalahan yang
menjadi landasan dalam mencari batasan-batasan masalah dalam penelitian ini.
Tujuan dilakukannya kajian mengenai “profil ketampanan dalam bingkai
maskulinitas yang ditampilkan oleh media televisi melalui media iklan L’MEN”
yaitu untuk mendifinisikan pentingnya dari kajian ini. Selanjutnya pada poin
terakhir, adalah signifikasi dalam mencari landasan atau dasar pada kajian ini.
Menjelaskan media iklan
melalui media televisi, macam-macam iklan, sifat dari iklan, dan
penggambaran-penggambaranya yang lain melalui media televisi dengan iklan
khususnya iklan L’MEN
Bab 3
Menjelaskan
tenatang ranah ilmu semiotika untuk menjawab apa yang ditampilkan oleh media
iklan L’MEN di dalam penyampaiannya yang sarat akan pesan dan
kesan.
Bab 4 Menjelaskan
tentang maskulinitas pada iklan, kenapa maskulitas sering hadir di media iklan
L’MEN
BAB II. MEDIA TELEVISI
2.1. Pendahuluan
Seiring dengan
hadirnya teknologi yang semakin maju. Hadirnya media massa meruapakan alat yang
digunakan dalam penyampaian pesan-pesan dari sumber kepada khalayak (menerima)
dengan menggunakan alat-alat komunikasi mekanis seperti surat kabar, film,
radio, dan TV (Cangara,2002).
hadirnya Media massa merupakan alat yang sangat
ampuh di dalam menyampaikan informasi pada era sekarang ini. sebab yang
ditampilkan oleh media massa melalui “teks,
verbal, dan visual” dengan acara ataupun informasi mengenai sebuah peristiwa
yang up to date serta penampilan iklan
di dalamnya, sangat mudah diterima oleh masyarakat luas.
Tentu dengan hadirnya media massa khusunya media
televisi, masyarakat luas pada era sekarang ini dapat lebih leluasa untuk mengetahui penyebaran informsi dan juga
promosi-promosi produk tertentu melalui periklanan pada media televisi.
Menengok pada
sejarah sejenak, “kemunculan media massa pada tahun 1990 juga diikiuti juga
dengan perkembangan industri yang diduplikasi, mengikuti setiap “revolusi”
berikutnya dalam teknologi media. Setiap kemunculan media baru akan
mempengaruhi media yang sudah ada. Kehadiran microsoft, google, dan you tube
secara tidak langsung mempengaruhi perusahaan lama yang berkutat pada media
massa “televisi, koran, dan surat kabar.
hadirnya ketiga perusahaan baru pada waktu itu
seperti microsoft, google, dan you tube. menjadi sebuah ancaman besar bagi
media lama seperti media massa “televisi, radio, dan surat kabar”. hal ini
menjadi sangat relevan memang dimana hadirnya sebuah teknologi baru akan mempengaruhi
media lama. Hadirnya media baru seperti microsoft, google, dan you tube secara
langsung mempengaruhi dari eksistensi
dari media lama. Maka dari itu hadirnya revolusi media pada waktu itu, banyak
mengalamai kerugian pada media lama.
Namun pada sekarang ini fakta berbicara berbeda.
Hadirnya media televisi dan juga media sosial atau “internet” akibat dari
perkembangan zaman. Tidak juga menurunkan eksistensi dari media televisi karena
di pertemukannya dengan hadirnya media sosial. Hadirnya you tube dan google
juga tidak menimpangkan eksisnya media televisi. Orang lebih menyukai acara
melalui media televisi dikarenakan “praktis”. tidak seperti google ataupun you tube yang
membutuhkan jaringan internet aktif untuk melihat acara dan informasi di
dalamnya.
Hadirnya media televisi pada sekarang ini, merupakan
instrumen yang ampuh dalam penyebaran
informasi dan pengiklanan produk melalui media ini. Penyampaian informasi dan
iklan melaui media televisi merupakan gerakan yang sangat cepat dan mudah
diterima oleh masyarakat.
Adanya Media televisi juga mempunyai dampak yang
signifikan antara Positif ataupun negatif. Media televisi dapat menjadi wadah
oleh sebagian masyarakat untuk melakukan hal positif. Contoh semisal, dengan adanya
media televisi seseorang ataupun kelompok dari masyarakat dapat melakukan
kegiatan gerakan peduli sesama yang
dapat menstimulus orang lain untuk melakukan hal yang serupa nantinya. Dengan media televisi seseorang juga dapat
menaruh iklan produk ataupun iklan layanan masyarakat. hadirnya media televisi
juga dapat membantu masyarakat dalam memperoleh informasi up to date mengenai suatu
pristiwa yang terjadi di luar negeri semisal. Dan masih banyak lagi dampak
positif dari adanya media televisi.
Hadirnya Media televisi juga menjadi momok yang
harus diwaspadai. mengapa demikian, adanya media televisi yang merupakan
instrumen yang sangat cepat dan mudah diterima oleh masyarakat, dapat di
jadikan oleh sebagian orang untuk kemungkinan melakukan “propaganda” mengenai
suatu peristiwa. Hal tersebut dilakukan untuk meninggikan rating pada stasiun
televisi yang lama melintang pada media televisi
2.2 Iklan Televisi
Menurut (hendy y 2009 : 73) iklan terdiri dari 2
kategori, yaitu iklan komersial dan iklan sosial. Iklan komersial titik tekannya dimana pada memperoleh untung sebesar-besarnya
atas produk yang di iklankannya. Sedangkan pada iklan sosial bertujuan untuk
memberikan informasi dan menerangkan kepada masyarakat tentang pelayanan atau
penyuluhan dan tentunya hal ini bermanfaat.
Iklan merupakan instrumen bagi pemilik modal untuk
melanggengkan prakteknya melaui media televisi. Meskipun pada era sekarang ini,
banyak wadah-wadah media yang menyediakan pengiklanan. Namun pengiklanan yang
paling menjadi rujukan utama tentunya adalah media televisi. Dikarenakan lebih
sering dilihat oleh halayak ramai dibanding dengan media-media yang lain
seperti media teks dan verbal. Sebab dengan media visual seorang akan lebih
cepat tertarik dari pada dengan media verbal atupun tekstual.
(Raymon williyam,1993 : 320) iklan bagaikan sebuah
dunia magis yang dapat mengubah komoditas kedalam gemerlapan yang memikat dan
mempesona. sebuah sistem yang keluar dari imajinasi dan muncul kedalam dunia
nyata melalui media.
Secara tersirat, raymon william ingin mengatakan bahwa apa yang di gambarkan
iklan pada media televisi hanya imajinasi dari si pengiklan dan selanjutnya di
lemparkan ke pada media khususnya media televisi. Hal ini seolah ingin
mengatakan, bahwa yang di gambarkan oleh iklan melalui media tidak akan pernah
menjadi nyata sebab hal itu hanya akan benar-benar nyata pada media namun pada
realitas sosial hal itu tidak akan pernah ada.
Maka
sesungguhnya copy writer dan visualizer-lah yang paling besar perannya dalam
memberi “nuansa hidup” kepada iklan
televisi. Mereka telah mengubah realitas sosial bahkan mereproduksi realitas
sosial dan mengomunikasikan dalam bahasa informasi kepada khalayak sehingga
realitas itu
tidak lagi menjadi realitas iklas televisi, namun
menjadi realitas informasi dan komunikasi yang saraf dengan muatan-muatan
kontruksi sosial dan setiap saat membentuk imajinasi dan kognisi pemirsa.
Maka dari itu, peran dari iklan bukan hanya sekedar
menjadikan realitas sosial menjadi realitas pada iklan. Namun bagaimana
realitas dari iklan di legitimasi menjadi realitas sosial melalui penyampain
informasi melalui iklan tersebut. sebagai contoh, orang akan dinilai “cantik
ataupun tamapan” jika realitas pada iklan dan realitas soial telah
berdampingan. Maksudnya, karena realitas pada iklan sudah menjadi realitas pada
realitas sosial. Maka apa yang direpresentasi dari iklan pada akhirnya harus menuntut sesorang menyamai apa yang di
representasikan oleh iklan. Representasi dari realitas iklan bisa berupa
pesan dari aktris, gaya dari aktris, dll yang digambarkan oleh iklan. Agar
legitimasi pada contoh profil tampan ataupun cantik benar di akui oleh realitas
sosial, maka harus menuntun sama dengan realitas iklan melaui menerima asumsi
dasar pada iklan dan menyamai gaya aktris dari iklan tersebut .
Selanjutnya, iklan memiliki fungsi menurut monle lee
dan carla johnson (2007:11) yaitu:
- Periklanan
menjalankan sebuah fungsi “informasi”, ia mengkomunikasikan informasi produk,
ciri-ciri, dan lokasi penjualannya.
- Periklanan
menjalankan sebuah fungsi “persuasif”, ia mencoba membujuk para konsumen untuk
membeli merek-merek tertentu atau mengubah sikap mereka terhadap produk atau
perusahaan tersebut.
- Periklanan
menjalankan sebuah fungsi “pengigat”, ia terus menerus mengingatkan para
konsumen tentang sebuah produk sehigga mereka akan tetap membeli produk yang
diiklankan tanpa memperdulikan merek pesaingnya.
hadirnya iklan dimasyarakat sangat mudah
diterima oleh halayak ramai dalam penginformasiaannya mengenai suatu produk. apalagi
produk yang di iklankan melalui media televisi, yang pada umumnya setiap hari
orang melihat acara-acara dan informasi
melalui media televisi. Hal ini Tidak hanya membantu, namun juga mempermudah
masyarakat dalam menemukan lokasi dimana produk tersebut berada.
Adanya sebuah iklan, membuat sesorang
“dalam membeli suatu produk” akan selalu berfikir dan mempertimbangkan produk
yang akan dibeli sesuai dengan pengalaman yang dia punya. Sebagai contoh :
seseorang akan tetap memilih sabun muka A ataupun beralih terhadap sabun muka B
akibat dari apa yang dia lihat di media televisi khususnya iklan. Orang akan
terus mempertimbangkan suatu produk dengan produk yang lain. meskipun bisa saja
dari segi kualitas antara produk sabun A
dan produk sabun B memiliki kandungan yang sama. Namun hanya dengan
konsep pengiklanan yang lebih menarik dari iklan sabun B dari pada iklan sabun
A orang yang melihat iklan tersebut terpengaruh dan beralih memakai produk
sabun B.
Hadirnya iklan juga mempengaruhi
konsumen didalam mempertahankan suatu produk akibat dari telah terbiasanya
memakai produk tersebut. apalagi dengan dipadukannya pengiklanan pada produk
terkait semakin bagus pada pengiklanan dan
kemasaannya. Pada taraf ini konsumen akan tetap mimilih mempertahankan
memakai produk tersebut dari pada beralih menggunakan produk yang lain. hal ini
diakibatkan dengan ditunjangnya segi pengiklanan yang bagus dan juga didukung
dari kemasan juga.
2.3 Bentuk-Bentuk Iklan
Frank jefkins dalam burhan (2008 : 109) secara garis
besar bentuk – bentuk iklan terdiri dari beberapa jenis yang digolongkan
menjadi tujuh kategori utama yakni :
iklan
konsumen, yaitu bertujuan untuk menawarkan barang kepada konsumen secara
seluas-luasnya melalui berbagai media. Media beruapa media verbal, teks, dan
visual.
Pada iklan antar bisnis periklanan hanya pada taraf
perusahaan-perusahaan dan memperjualkan bahan-bahan mentah untuk diolah
kembali. Iklan ini tidak untuk konsumen malah non konsumen karena berupa bahan
mentah. Sedangkan pada iklan perdagangan hanya ditujukan kepada distributor,
para agen, ekportir maupun importir.
Selanjutnya pada iklan eceran, yaitu iklan yang
dibuat oleh perusahaan pemilik produk atau pemasok produk yang disebarkan di
pasar swalayan, supermarket, toko dan sebagainya. Contohnya dari rujukan pada
iklan tersebut yaitu pada perusahaan buku, roti, mentega dll. sedangkan Pada
Iklan keunagan, iklan ini di khususkan untuk bank, jasa tabungan, asuransi, dan
investasi dan iklan lain yang sejenis dengan ini. Iklan rekrutmen hanya
ditujukan pada media yang memfasilitasi ini yaitu biasa ada apa media teks atau
koran.
Bove dalam burhan (2008:110) mengatakan iklan dapat
diklarifikasi berdasarkan 3 kategori :
1. Target
audiens terdiri dari pemakai, bisnis atau industrial, perdagangan, profesional,
dan pertanian
2. Wilayah
geografis ; internasional, nasional, regional, atau lokal
3. Penggunaan
media ; media cetak seperti koran, majalah, Media elektronik seperti radio,
televisi, dan media luar rumah seperti poster, buletin
Media iklan dalam melakukan ekspansi produknya
melalui media-media berupa media teks, verbal, dan visual.
Akan melakukan kategorisasi terkait
siapa yang akan menjadi sasaran pemakai dari suatu produk. Selanjutnya
yang diperhatikan adalah jangkauan dari pengiklanan suatu produk. Seberapa jauh
Jangkauan dari priklanan menjangkau pada
skala internasional, nasional, regional atau bahkan lokal. Setelah itu,
media apa yang akan digunakan dalam pengiklanan. Hal ini berfungsi untuk
seberapa jauh ekspansi dari suatu produk melalui iklan dapat diterima oleh
masyrakat.
seperti yang telah penulis singguh di atas, sebagian
pengiklan lebih memproritaskan mengiklankan produknya melalui media televisi.
Karena dilihat dari standarisasi yang dilakukan oleh media televisi yang ketat dan juga dari segi penerimaan dari
hadirnya iklan melalui media televisi mudah dan cepat diterima oleh masyarakat.
2.4. Kategorisasi Iklan Televisi
Hadirnya berbagai iklan melaui media televisi pada
hari ini memang sangat marak. Bahkan semakin hari iklan yang hadir di televisi
semakin hari semakin banyak dari sebelumnya. banyaknya populasi manusia di bumi
juga mempengaruhi dari hadirnya iklan. Seperti yang diketahui, semakin populasi
manusia bertambah secara langsung akan semakin banyak pula kebutuhan manusia. hal
inilah yang menjadi dasar utama bagaimana peran dari iklan dalam memperkenalkan
suatu produk untuk pemenuhan kebutuhan manusia yang semakin meningkat.
Kreativitas dari pengiklan sangat dibutuhkan pada
taraf ini. Iklan yang bagus dan menarik akan mengundang masyarakat untuk
mencoba dan menggunakan produk dari yang ditampilkan oleh iklan. Hadirnya media
televisi sebagai sarana yang cepat dan mudah dalam pengiklanan yang menjadi
alasan mendasar mengapa banyak pengiklan yang lebih menyukai megiklankan
produknya melalui media televisi. Namun bila dibanding dengan media lain iklan
televisi memiliki kategorisasi yang jauh berbeda dengan dengan media yang lain.
kekuatan itu terletak pada kekuatan visual dan kekuatan audio. Hal ini tentunya
berbeda dengan media-media yang lain, yang memiliki kekuatan dan kelemahan sendiri-sendiri
antara media yang satu dengan yang lain.
Iklan televisi dibangun dari kekuatan visualisasi
objek dan kekuatan audio. Simbol-simbol yang divisualisasi lebih menonjol dibanding dengan simbol-simbol verbal. umumnya
iklan televisi menggunakan cerita-cerita pendek menyerupai karya film pendek.
Dan karena waktu tayangan yang pendek,
maka iklan televisi berupaya keras meninggalkan kesan yang mendalam kepada
pemirsa dalam beberapa detik.
Bove dalam burhan (2008 : 111) iklan
televisi salah satu dari iklan lini atas. Umumnya iklan televisi terdiri dari
iklan sponsorship, iklan layanan masyarakat dan iklan spot
Sebab kekuatan pada media televisi terletak pada pada kekuatan audio dan visiual
maka ekplorasi dari pada kreativitas dan imajinansi dari pengiklan dibutuhkan
pada peningkatan suatu produk. selanjutnya pada kesan yang dibuat oleh si
pengiklan, pengiklan akan meninggalkan image baik dan meninggalkan sarat pesan
yang konsumtif pada produk yang di iklankan. Sebab, maraknya iklan pada media
televisi lebih didominasi oleh iklan
sponsorship dari pada iklan layanan masyrakat antaupun iklan spot. Iklan
sponshorship juga didukung dengan dana yang tidak sedikit.
Pada iklan sponshorship, tujuannya utama berada pada bagaimana iklan ini menarik
khalayak ramai untuk memakai ataupun mengkonsumsi produk yang di iklankanya.
Kesan-kesan yang menarik harus dibuat
oleh pengiklan melalui konsep ataupun dengan tayangan iklan yang
menarik. Sebagai contoh : iklan rokok di indonesia, meskipun pada iklan rokok
yang ditampilkan melalui media televisi di indonesia tidak menampilkan peragaan
seseorang yang sedang merokok. Namun melalui kemasan pengiklanan yang bernuansa
petualangan atau adventure dan acapkali juga bernuasa pemandangan alam lebih
ditonjolkan pada iklan ini. Semua itu
dilakukan oleh pengiklan sebagai penggambaran sosok laki-laki penyuka
petualangan. nantinya dengan menggunakan produk tersebut representasi dari yang
ditampilkan oleh iklan “mengenai laki-laki yang suka adventure” akan muncul
ketika menggunakan produk tersebut.
Melalui ikala yang dibuat oleh pengiklanan tersebut,
secara tersirat seolah ingin menyampaikan kesan baik “jika menggunakan produk dari iklan tersebut
sesorang akan lebih laki dan lebih menyukai sesuatu yang menantang”. Hal ini
diperkuat dengan latar pengiklanan bernuansa adventure dan pemanandangan alam.
2.5. Sifat Pada Iklan
Tayangan yang dihadirkan pada media televisi
sangatlah beragam. Tentunya hal itu juga memiliki tujuan-tujuan sarat makna
dari yang ditampilkan pada tayangan televisi. Tayangan ditelevisi bisa berupa
“informasi dan juga iklan-iklan”.
Kecendrungan pada yang ditampilkan oleh iklan dalam mempromosi suatu
produk lebih bersifat “berbohong, mendustai, ataupun mengecoh”.
Seperti yang diungkap oleh sudjiman dan zoet dalam
burhan (2008 : 115) iklan televisi memiliki sifat dan kecendrungan yang
mendekati logika pembohong, namun jarang dapat dibantah karena umumnya masuk
akal. Maka, seperti yang dijelaskan oleh umberto eco ; jika sesuatu tidak dapat
digunakan untuk mengecoh, berarti ia tidak dapat digunakan untuk mengatakan
sesuatupun, demikian definisi dusta.
Pada taraf ini apa dilakukan oleh pengiklan dalam
“pengecohan logika berfikir” penggambaran yang ditampilkan oleh sebuah iklan
bukan untuk bertujuan merugikan dari konsumen. Namun hal ini seolah menstimulus
seseorang untuk melihat iklan tersebut dan mulai berfikir logika apa yang
dimainkan oleh iklan itu . selanjutnya penggambaran iklan tersebut juga
memasukka tanda-tanda yang erat dengan ranah ilmu semiotik. Sebab pada hal
ini, iklan yang ditampilkan adalah sarat
dengan tanda-tanda melalui figur yang membintanginya. Apa yang ditampilkan oleh
iklan diambil dari realitas sosial yang selanjutnya diangkat menjadi realitas
iklan memalui yang ditampilkan oleh ikalan.
Kecendrungan lain dari iklan juga terletak pada time
and space, dimana relitas sosial itu dibangaun, dengan kata lain, iklan
menembus dimensi tempat dan waktu. iklan televisi dapat menarik satu garis
lurus diantara beberapa dimensi waktu dan tempat.
Penggambaran hal diatas dapat dilihan dari iklan
L’MEN dimana figur sebelum meminum L’MEN serta belum melakukan kegiatan
olahraga memiliki badan yang kurus. Namun selanjutnya perbandingan terjadi
ketika telah meminum L’MEN badan pefigur berubah menjadi lebih berotot dari
pada sebelumnya. Dimensi waktu tergambar melalui figur yang ditampilkan oleh
iklan L’MEN “pada sebelum melakukan rutinitas olah raga dan meminum L’MEN” dimensi
waktu perlihatkan melalui separuh perseparuh scane pada iklan L’MEN bentuk
badan dari kurus perlahan menjadi berotot.
Pada dimensi tempat tergambar melalui figur yang
ditampilkan oleh iklan L’MEN melalui tempat – tempat pefigur melakukan
rutinitas olahraga yang berbeda-beda. namun nantinya konsumen dapat melihat
perbedaan tempat-tempat tersebut tetap ada pada satu tanyangan iklan. Dibedakan
melalui jeda-jeda scane saja namun tetap pada satu iklan yang sama.
Pada umumnya seorang pengiklan, karena dikejar dengan space dan
waktu pengiklanan. Pembuat iklan harus melakukan kreasi pada iklan yang akan
ditampilkan. Dimana dengan lama waktu pengiklanan yang pendek seorang pengiklan
harus mampu memberikan kesan dan juga simbol pada konsumen dengan waktu yang
sedemikian cepat.
2.6. Iklan Televisi sebagai The
Magic System
Serbuan media televisi pada sekarang ini melalui
berbagai tayangannya berupa “serbuan dari berbagai iklan”. Telah menjadi
realitas sosial juga realitas media pada era sekrang ini. Pengertian dan
pemaknaan Iklan oleh sebagian tokoh lebih dikenal sebagai the magic system. Hal
ini faktanya memang sesuai dengan yang selalu ditampilkan oleh media televisi
melalui iklan.
Vestergarad dan shoroder pada burhan (2008 : 84)
mengatakan, hal yang mungkin di mengerti mengapa publikasi tetap dapat
dipercaya padahal ada jarak antara apa yang ditawarkan dengan apa
dijanjikannya, sama dengan yang dirasakan oleh pemirsa tentang apa yang
diinginkan. Dua jarak antara itu terkesan terpenuhi hanya mimpi dan berlebihan
saja. Rata-rata konsumen tidak terkejut dengan pembelian barang yang tidak
sesuai dengn janji-janji iklan. Karena mereka sadari iklan hanya bagian
kesadaran dari hasrat manusia untuk hidup lebih baik. Iklan merupakan fantasi
yang tersimpan dalam dunia mimipi manusia.
Meskipun demikian, magnet dari iklan sangat kuat dalam
mempengaruhi konsumen untuk mengikuti realitas pada media iklan. Hal ini dapat
dibuktikan dengan terpengaruhnya seseorang melalui janji-janji yang dilontarkan
oleh iklan. Sebagai contoh iklan pada sekarang ini memberikan janji-janji
suguhan hadiah ketika membeli suatu produk. Hal ini dilakukan supaya menarik
konsumen untuk semakin konsumtive pada barang tersebut melalui “lebih sering
memaki produk tertentu” untuk mengharapkan hadiah yang dijanjikan oleh iklan.
Begitupun juga pada iklan L’MEN yang dapat
mempengaruhi penggunanya untuk terus memakai produk L’MEN. Asumsinya ada pada
terpenuhinya bentuk badan yang porposional seperti yang digambarkan oleh figur
pada iklan L’MEN. The magic system bermain disini, contoh pada iklan L’MEN
semisal, pembentukan badan berotot oleh figur/aktris pada iklan L’MEN seolah dapat dicapai dengan waktu yang
singkat dengan hasil bentuk tumbuh yang sangat porposional.
2.7.
Penutup
Hadirnya media televisi, yang merupakan instrument
media dalam penyampaian tanyangan dan pengiklannya. Dengan melaui Media ini,
penyebaran informasi bahkan periklanan lebih cepat diterima oleh masyarakat. Hal ini Yang menjadikan media televisi rujukan utama oleh para pengiklan untuk
memasarkan produknya. Perkembangan media televisi juga tidak kalah eksisnya
dengan media-media dengan hadirnya “internet” seperti google ataupun youtube
yang ada pada saat ini.
Pemasaran iklan juga mempertimbangkan pada skala
persebarannya yaitu pada taraf “internasional, nasional, regional ataupun
bahkan lokal”. Bentuk-bentuk iklan juga dikategorikan sebagai berikut ; iklan
Konsumen, Iklan antar bisnis, Iklan perdagangan, Iklan eceran, Iklan keuangan,
Iklan langsung, Iklan rekrutment.
Power dari iklan tertelatak pada kekuatan visual dan
audio. Maka ekplorasi dari pada kreativitas dan imajinansi dari pengiklan
dibutuhkan pada peningkatan suatu produk. Selanjutnya sifat pada iklan
cenderung bersifat “berbohong, mendustai, ataupun mengecoh” meskipun pada
realitas sosial hal itu memang ada. Namun polesan dari pengiklan menjadi lebih
bersifat mengecoh pada realitas yang ada.
Iklan juga lebih dikenal sebagai the magic system sebab iklan sering
memberikan janji-janji suguhan hadiah ketika membeli suatu produk. Bahkan lebih
dalam itu, iklan juga sering menggambarkan sesautu yang instan. Hal ini
dilakukan supaya menarik konsumen untuk semakin konsumtive pada barang tersebut
melalui. Hadirnya media iklan yang diangkat melalui pengangkatan dari realitas
sosial yang selanjutnya diangkat menjadi realitas media khususnya iklan. menuntut
sesorang untuk menyamai apa yang di representasikan oleh iklan
Daftar Pustaka
Burgin,Burhan.2008. Kontruksi Sosial
Media Massa “kekuatan pengaruh media massa, iklan televisi dan keputusan
konsumen serta krtik terhadap Peter L. Berger dan Thomas Luckman. Jakarta:
Kencana 2008
Hendy
Y.2009.belajar membuat iklan sukses. Yogyakarta : graha ilmu.
Baran S & Danis KD. 2014.“teori
dasar komunikasi pengolakan, dan masa depan massa.jakarta.Salemba Humanika
Nuraini. A, Maktukhah I.2015.pengaruh
celebrity endoser dan kualitas produk terhadap keputusan pembelian melalui
cintra merek pada kosmetik warda dikota semarang. Jurnal management. Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Semarang.
BAB III. PENGENALAN RANAH ILMU TANDA MELALUI “SEMIOTIKA’’
PADA IKLAN
Siapa yang tidak kenal dengan ilmu semantik atau
yang lebih familiar dikenal dengan ilmu semiotika. Ilmu yang memfokuskan pada
ilmu tanda-tanda. Ilmu yang sampai saat ini telah menjalar keberbagai ranah
ilmu seperti “semiotika hukum, semiotika verbal, semiotika media dll yang
sejenis”. Tokoh yang umumnya lebih dikenal pada ilmu ini yaitu “roland barthes,
charles sanders pierce, ferdinand de saussure”.
Semiotika juga hampir dikenal dengan ranah ilmu
semiologi. Namun pada keduanya itu perbedaannya terletak pada, tokoh rujukan.
Semiologi lebih berada pada aliran saussure sedangkan semiotika pada aliran
piercean. Meskipun keduanya berbeda, tidak pada memiliki arah ilmu yang berbeda
secara substantif melainkan keduanya sama-sama menuju arah ke semiotika. Sebab
semiotika lebih populer dikenal dari pada semiologi. Namun juga keduanya tetap
pada ranah ilmu yang sama yaitu mempelajari tentang semiotika berupa
“tanda-tanda”.
Istilah tanda menurut eco dalam muzaaki (2007:9)
tanda itu sendiri didefinisikan sebagai sesuatu yang dapat mewakili sesuatu
yang lain atas dasar konvensi sosial.
Senada dengan itu semiotika adalah ilmu tentang
tanda-tanda. Ilmu yang mengganggap bahwa fenomena sosial atau masyarakat dan
kebudayaannya merupakan tanda-tanda. Artinya, semiotika mempelajari
sistem-sistem, aturan-aturan, konvensi-konvensi yang memungkinkan tanda-tanda
tersebut mempunyai arti. Dengan kata lain, semiotika mempelajari relasi
diantara komponen-komponen tanda, serta relasi antara komponen-kompenen
tersebut dengan masyarakat penggunanya
Eco dalam sobur (2006:95) secara terminologis,
semiotik dapat didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari sederetan luas
objek-objek, peristiwa-peristiwa seluruh kebudayaan sebagai tanda. Secara eksplisit, kebudayaan dan fenomena yang
terjadi pada masyarakat adalah tanda-tanda yang telah menjadi realitas sosial.
Sistem, aturan, dan konvensi adalah tanda-tanda pada realiatas sosial yang ada
pada masyarakat dan tentunya harus dipatuhi. Tanda-tanda yang ter representasi
melalui ketiga tadi, yaitu pada sistem, aturan dan konvensi menuntut seorang
harus menyepakati hal itu.
Semiotika tidak hanya fokus pada tanda melainkan
juga pada makna dari sebuah tanda, makna dan mitos. Pada tanda, ada pada
aktivitas sehari-hari manusia yang bisa di anisis sepeti “nama/sebutan, peran,
fungsi, tujuan dan keinginan. Tanda juga bisa dilihat melalui gerak isyarat,
lampu kendaraan, seragam dll. Pada elemen tanda sassusure terdiri dari signifer
dan signifed, sedangkan makna pada roland barthes ada pada two order of
signifikasion. Pada taraf mitos masuk pada tataran two order of
signifikasionnya barthes.
Posisi iklan nantinya ada pada apa yang digambarkan
oleh menurut seassure yaitu pada signifer dan signifed dan pada taraf pemaknaan
mealalui pemikiran barthes pada two order of signifikasion yang selanjutkan
akan dilihat melalui iklan khususnya iklan L’MEN. selanjutnya menjawab apa yang digambarkan oleh
iklan L’MEN dan jiwab oleh pikiran
roland barthes yang melanjutkan dari pemikiran dari seassure.
3.2.
Pengertian semiotika
Secara epistimologi, istilah semiotik berasal dari
kata yunani semeion yang berarti “tanda”. Tanda itu sendiri didevinisikan
sebagai suatu yang atas dasar konvensi sosial yang terbangun sebelumnya, dapat
dianggap mewakili suatu yang lain. eco dalam sobur (2008 : 95).
Van zoest dalam sobur (2008 : 96). mengartikan
semiotik sebagai “ilmu tanda (sign) dan segala yang berhubungan dengannya :
cara berfungsinya, hubungannya dengan kata lain, pengirimannya, dan
penerimaannya oleh mereka yang mempergunakannya.
Semiotika adalah suatu ilmu atau
metode analisis untuk mengkaji tanda dan makna (Sobur, 2006:15). Sebuah tanda
menunjuk pada sesuatu selain dirinya sendiri yang mewakili barang atau sesuatu
yang lain itu, dan sebuah makna merupakan penghubung antara suatu objek dengan
suatu tanda (Hartoko dan Rahmanto, 1986:131 ). Kata “semiotika” itu sendiri
berasal dari bahasa Yunani ‘semeion’ yang berarti “tanda” (Sudjiman dan Van
Zoest, 1996:vii) atau ‘seme’ yang berarti ‘penafsir tanda’ (Cobley dan Jansz, 1999:4).
Alex Sobur ( 2006 : 15 ) mendefinisikan semiotika adalah suatu ilmu atau metode
analisa untuk mengkaji tanda,. Tanda – tanda adalah perangkat yang kita pakai
dalam upaya berusaha mencari jalan di dunia ini, di tengah – tengah manusia dan
bersama – sama manusia. Semiotika hendak mempelajari bagaimana kemanusiaan
(Humanity) dalam memakai hal – hal (Things). Memaknai berarti bahwa objek –
objek tidak hanya membawa informasi, dalam hal mana objek – objek itu hendak
berkomunikasi, tetapi juga mengkonstitusi sistem terstruktur dari tanda.
Pada pangertian dari kesemua para tokoh terhadap
semiotika yaitu titik tumpu pada ilmu semiotika yaitu berada pada “tanda,
makna, dan mitos”. secara jelas penjelasan dari tanda, makna, serta mitos telah
kurang lebih di jelaskan di atas melalui penjelasan-penjelasa melalui definisi
semiotika.
3.3.
macam-macam semiotika
Meskipun
demikian, hadirnya semotika juga memliki bermacam-macam bentuk fokus pada
tanda-tanda. Macam-macam semiotika disini nantinya akan menjelaskan tentang
berbagai macam semiotik dan menjelaskan tentang penalaran pada suatu tanda.
Yang pada hal ini :
Pateda dalam sobur (2006:100) sekurang-kurang
terdapat sembilan macam semiotik yang kita kenal sekarang :
1. Semiotika
analitik, yakni semiotika yang menganalisis sistem tanda. Peirce menyatakan
bahwa semiotik berobjekkan tanda dan menganalisisnya menjadi ide, objek, dan
makna. Ide dapat dikatakan sebagai lambang, sedangkan pada makna adalah beben
yang terdapat dalam lambang yang mengacu kepada objek tertentu.
2. Semiotik
deskriptif, yakni semiotik yang memperhatika sisitem tanda yang dapat kita alami
sekarang, meskipun ada tanda yang sejak dahulu tetap seperti yang disaksikan
sekarang, misalnya, langit yang mendung menandakan hujan akan turun sebentar
lagi. Sejak dahulu sampai sekarang tanda-tanda tersebut tetap sama.
3. Semiotik
faunal, yakni semiotik yang khusus memperhatikan sistem tanda yang dihasilkan
oleh hewan. Contoh : jika ayam berkotek-kotek mendakan ayam ada pade fase
bertelur.
4. Semiotik
kultrul, yakni semiotik yang khususnya menelaah sistem tanda yang berlaku dalam
kebudayaan masyarakat tertentu. Telah diakui bahwa masyarakat sebagai makhluk
sosial memiliki sistem budaya tertentu yang telah turun temurun dipertahankan
dan dihormati. Budaya yang terdapat dalam masyarakat yang juga merupakan sistem, menggunakan tanda-tanda
tertentu yang membedakan dengan masyarakat yang lain.
5. Semiotika
naratif, yakni semiotik yang menelaah sistem tanda dalam narasi yang berwujud
mitos dan lisan, ada diantaranya memiliki nilai kultur yang tinggi. Itu
sebabnya greimas (1987) memulai pembahasannya tentang nilai-nilai kultural
ketika ia membahas persoalan semiotik naratif.
6. Semiotik
natural, yakni semiotik yang khusus menalaah sistem tanda yang dihasilkan oleh
alam. Air-sungai keruh menandakan di hulu telah turun hujan, dan daun
pohon-pohonan yang menguning lalu gugur. Alam yang tidak bersahabat dengan
manusia misalnya banjir atau tanah longsor, sebenarnya memberikan tanda kepada
manusia bahwa manusia telah merusak alam.
7. Semiotik
normatif, yakni semiotik yang khususnya menelaah sistem tanda yang dibuat oleh
manusia berwujuh norma-norma, misalnya rambu-rambu lalu lintas. Diruang kereta
api sering dijimpai tanda yanag bemakna dilarang merokok.
8. Semiotik
sosial, yakni semiotik yang khusu menelaah sistem tanda yang dihasilkan oleh
manusia berbentuk lambang, baik lambang berwujud kata maupun lambang kata
berwujud dalam satuan kalimat
9. Semantik
struktural, yakni khusus menelaah sistem
tanda yang di manifestasikan melalui struktur bahasa.
Pada hal ini, para pengiklanan di media televisi
setidaknya akan mengambil salah satu dari kesembilan tersebut untuk membuat kesan ataupun pesan di dalam menyampaikannya.
Dimana yang telah di jelaskan pada pada point pertama yaitu “Semiotika
analitik, yakni semiotika yang menganalisis sistem tanda. Peirce menyatakan
bahwa semiotik berobjekkan tanda dan menganalisisnya menjadi ide, objek, dan
makna. Ide dapat dikatakan sebagai lambang, sedangkan pada makna adalah beban yang terdapat
dalam lambang yang mengacu kepada objek tertentu”
Ide dari pada pengiklan di gambarkan melalui
pelambangan dari produknya. Yang selanjutnya dipoles sedemikian rupa “melalui
realitas sosial yang diangkat menjadi realitas pada media”. Pada sasaranya
tentunya ada pada konsumen yang melihat pada iklan. Sedangkan dalam pemaknaan
dibuat dari pesan-pesan yang disampaikan oleh pengiklan “melalui
selogan-selogan dan sebagaiannya”.
Sedangkan pada penalaran tanda dengan penandanya
yaitu ada apa yang disebut dengan “qualisms, sinsigns dan legisigns”. Adapaun
pengertian dari ketiganya
a. qualisigsn
: penanda yang berkaitan dengan
kualitas,
b. sinsigns : penanda yang bertalian dengan
kenyataan.
c. Legisigns : penanda yang berkaitan dengan kaidah.
Qualisigsn
adalah tanda-tanda yang merupakan tanda berdasarkan suatu sifat. Contoh ialah
sifat “merah” semisal. Merah bisa berarti memiliki arti pemberani bagi sebagian
seseorang. Merah juga bisa diartikan peringatan tanda berbahaya dan bisa juga simbol
dari “cinta”. Hal itu bisa terjadi jika unsur “warna merah” di lambangkan
dengan dijadikan suatu benda. Contohnya warna merah pada lampu merah dan bendera. Pada “warna lampu merah” tanda dimuat
sebagai “peringatan untuk berhentin” sedangkan warna merah pada bendera “contoh
bendera indonesia” memiliki tanda rasa nasionalisme pada bangsa.
Sinsigns
adalah tanda yang merupakan tanda atas dasar tampilnya dalam kenyataan. Semua
pernyataan individual yang tidak dilambangkan dapat merupakan sinsgns. Sebuah
jeritan bisa berarti kesakitan, ketakutan, dan bahkan tertawaan masuk dalam
sigsn.
Legisign
adalah tanda-tanda yang merupakan tanda atas dasar suatu peraturan yang berlaku
umum, sebuah konvensi, sebuah kode. Tanda-tanda lalu lintas merupakan
legisigns. Hal itu dapat juga dikatakan dari gerak isyarat tradisional.
Mengangguk petanda kode “ya, Mengerutkan alis petanda bingung atau heran,
berjabat tangan berarti sepakat dan sebagiannya yang sejenis. Legisign
perpaduan antara sinsgn, pada posisi signsgn yaitu ada pada posisi second dan
Legisign ada pada posisi second third.
3.4. Semiotika roland barthes
Rolan barthes terkenal dengan
pemikirannya yaitu (two order of signification). Pemikirannya tidak
semerta-merta hadir begitu saja dibenaknya. Pemikarannya tersebut datang dari
seassure yang kemudian dilanjutnya dengan apa yang dilakukan oleh barthes.
Seassure terkenal dengan pemikirannya yaitu “signifer dan signifed (petanda dan
penanda)” Pemikiran barthes tergambar melalui dibawah ini :
Sumber: Alex Sobur: Analisis Teks Media,
2006 : 127
Barthes menjelaskan bahwa signifikasi tahap pertama
merupakan hubungan antara signifier dan signified dalam sebuah tanda terhadap
realitas ekternal. Barthes menyebutnya sebagai denotasi, yaitu makna paling
nyata dari tanda. Konotasi adalah istilah yang digunakan Barthes untuk
menunjukkan signifikasi tahap kedua. Hal ini menggambarkan interaksi yang
terjadi ketika tanda bertemu dengan perasaan atau emosi dari pembaca serta
nilai-nilai dari kebudayaannya. Konotasi mempunyai makna yang subjektif atau
paling tidak intersubjektif. Pemilihan kata-kata kadang merupakan pemilihan
terhadap konotasi.
Dengan kata lain, denotasi adalah apa yang
digambarkan tanda terhadap suatu objek, sedangkan konotasi adalah bagaimana
menggambarkannya. Pada signifikasi tahap kedua yang berhubungan dengan isi,
tanda bekerja melalui mitos (myth). Mitos adalah bagaimana kebudayaan
menjelaskan atau memahami beberapa aspek tentang realitas atau gejala alam.
Mitos merupakan kelas sosial yang sudah mempunyai suatu dominasi. Dalam bukunya
yang terkenal, S/Z (1970), Barthes berupaya untuk mengeksplisitkan kode-kode
narasi yang berlaku dalam suatu naskah. Lima kode yang ditinjau Barthes adalah
kode hermeneutik (kode teka-teki), kode semik (makna konotatif), kode simbolik,
kode proaretik (logika tindakan), dan kode gnomik atau kode kultural.
Selanjutnya Barthes dalam Sobur (2006: 65), menjelaskan kode-kode tersebut
sebagai berikut;
a. Kode Hermeneutik atau kode teka-teki berkisar
pada harapan pembaca untuk mendapatkan “kebenaran” bagi pertanyaan yang muncul
dalam teks. Kode teka-teki merupakan unsur struktur yang utama dalam narasi
tradisional. Di dalam narasi ada suatu kesinambungan antara pemunculan sesuatu
peristiwa teka-teki dan penyelesaiannya di dalam cerita.
b. Kode Semik atau kode konotatif banyak menawarkan
banyak sisi. Dalam proses pembacaan, pembaca menyusun tema suatu teks. Ia
melihat bahwa konotasi kata atau frase tertentu dalam teks dapat dikelompokkan
dengan konotasi kata atau frase yang mirip.
c. Kode Simbolik merupakan aspek pengkodean fiksi
yang paling khas bersifat struktural, atau tepatnya menurut konsep Barthes,
pascastruktural. Hal ini didasarkan pada gagasan bahwa makna berasal dari
beberapa oposisi biner atau pembedaan, baik dalam taraf bunyi menjadi fonem
dalam proses produksi wicara, maupun pada taraf oposisi psikoseksual yang
melalui proses.
d. Kode Proaterik atau kode tindakan/lakuan
dianggapnya sebagai perlengkapan utama teks yang dibaca orang. e. Kode Gnomik
atau kode kultural banyak jumlahnya. Kode ini merupakan acuan teks ke
benda-benda yang sudah diketahui dan dikodifikasi oleh budaya.
3.5.
semiotika pada iklan
Media televisi dengan hadirnya beragam tontonan dan
tanyangan informasainya. Serta juga menumpuknya iklan-iklan pada media
televisi yang tentunya mempunyai
tujuan-tujuan tertentu. Pada hal ini tentunya pengklarifikasian iklan sangat
diperlukan sebab dilihat dari tujuan tayangan pengiklananya. Iklan terdiri dari
dua macam, iklan komersial atau iklan non komersial. Iklan komersial bertujuan
untuk mengajakan yang melihat iklan tersebut tertarik dalam membeli produknya.
Sedangkan pada iklan non komersil lebih pada pengetahuan dan informasi mengenai
layanan masyarakat
Di dalam pengiklanan tentunya terdiri pelbagai
tanda-tanda dan makna yang ingin di sampaikan ke pada para aundiens selaku yang
melihat dari iklan tersebut. fungsi dari semiotika pada iklan tentunya mengajak
aundiens untuk mngetahui maksud dari apa yang ditampilkan oleh iklan tersebut.
tanda-tandanya bisa berupa dari pesan pesan dari figur atau aktris yag
ditampilkan oleh si pengiklan produk tersebut. ataupun bisa juga dengan
bahasa-bahasa verbal dengan dipadukan dengan visual melalui alur cerita dari si
pengiklan.
Senada dengan itu barthes telah menyinggung itu
melalui penelitiannya pada bahasa teks melalui semiotiknya mengenai “konotasi
dan denotasi”. denotasi adalah apa yang digambarkan tanda terhadap suatu
objek, sedangkan konotasi adalah bagaimana menggambarkannya.
Sebagai contoh iklan L’MEN, iklan ini menggambarkan
seorang figur laki-laki berotot dan juga perempuan seksi. Perempuan tersebut
menjatuhkan anting berlian kedalam kolam. Yang selanjutnya direspon oleh kedua
laki-laki pada yang di gambarkan oleh iklan L’MEN. Ketika kalung itu dijatuhkan
ke dalam kolam renang, kedua laki-laki tersebut berlari dan melocat ke dalam kolam
renang sembari berkompetisi mengambil anting berlian untuk diserahkan kepada
wanita sexi itu. namun yang menang pada kompetisi tersebut adalah laki-laki
yang berotot. Scane selanjutnya melihatkan lawan dari laki-laki berotot
tersebut yang sedang malu akibat
kekalahannya dan melihat tubuh berotot dari sipemenang.
Pada contoh ini denotasi berada pada kalung yang
dilemparkan kedalam kolam renang “yang bertanda persaingan kepada kedua
laki-laki tersebut”. selanjutnya badan berotot yang ditampilkan oleh figur
L’MEN juga termasuk denotasi dengan penggambaran dari laki-laki yang suka
berkompetisi dan sering memenagi kompetisi. Pada konotasi digambarkan
dengan laki-laki yang langsung sigap merespon oleh yang ditandakan pada
siperempuan sexsi dari iklan L’MEN tersebut dengan langsung meloncat kedalam
kolam dan selanjutnya memberikan anting berlian itu kepada wanita sexi
tersebut.
semiotika adalah ilmu yang mempelajari tanda-tanda
yang ada pada kehidupan manusia. semiotika juga mempelajari ilmu tanda (sign)
dan yang berhubungan dengan cara
memfungsikannya, hubungannya dengan kata lain, pengirim dari yang memberikan
tanda, dan penerimaa dari yang memberikan. Macam-macam semiotika terdiri dari
“semiotika analitik, semiotika deskriptif, semiotika faunal, semiotika kultur,
semiotika naratif, semiotika natural, semiotika normatif, semiotika sosial, dan
semiotika struktural” kurang lebih ada sebilan macam jenis. Pada penalaran
tanda terdiri dari 3 yaitu “qualisigsn, sinsigns, Legisigns.
Semiotika yang diperkenalkan oleh barthes yaitu
dikenal dengan two order signification. Makna konotasi dan detosi pada tanda
adalah yang dipirkan oleh barthes. Mitos pada kebudayaan adalah singgungan dia
kepada apa yang di petandakan dari pada two order signification.
Iklan yang sarat dengan tanda-tanda pada yang
ditampilkan juga memperllihatkan itu. dimana pada iklan L’MEN, makna dari pada
konotasi dan juga denotasi pada iklan L’MEN telah bermain disitu. Dan seolah
menyihir sipelihatnya untuk masuk pada yang digambarkan oleh iklan tersebut.
makna tanda “denotasi dan konotasi” dibuat semenarik mungkin oleh si pengiklan
melaui konsep dan figur pada iklan L’MEN
agar apa yang digambarkan melalui iklan tersebut pemaknaannya dimengerti
oleh sipelihat iklan.
Daftar pustaka
Sobur A. 2006. analisis teks media
(suatu pengantar untuk analisis wacana, analisis semiotik, dan analisis framing).
Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Muzakki A. 2007. Konstribusi semiotika
dalam memahami bahasa agama. Malang: UIN-Malang.
Anshori F. 2014. “representasi
sensualitas perempuan dalam iklan (analisis semiotika roland barthes terhadap
iklan parfum axe versi heaven on earth di televisi. Skripsi. Diterbitkan. Uin
Yogyakarta
BAB 4 MASKULINITAS PADA IKLAN
Maskulinitas dan feminimitas sering kali dibicarakan
ketika berbicara mengenai gender. Gender berbeda dengan alat kelamin, gender
adalah keadaan sifat yang dibawa sejak kecil yang disesuaikan melalui bawaan
alat kelamin yang selanjutkan diarahkan oleh lingkungannya untuk menjadi sesuai
dengan kodrat kelaminnya.
Perempuan maupun laki-laki dikatakan “laki-laki
ataupun perempuan” jika mememiliki kebiasaan umum pada kesifatan antara
laki-laki ataupun perempuan. maksudnya disini, bawaan sifat “laki-laki” akan
dikatakan seorang laki jika memiliki bawaan sifat laki-laki. Contoh, sifat
laki-laki yaitu kuat, keras, agresif dll yang sejenis”. Pada perempuan, akan dikatakan wanita jika persifatannya
“lemah, lembut, halus dan lain-lain yang sejenis.
Kembali pada maskulinitas, konsep maskulinitas juga
telah digambarkan melalui periklanan yang diambil melalui realitas sosial yang
kemuadian diangkat kedalam realitas media khususnya iklan. Penggambar dan
pensifatan laki-laki maskulin di dalam
periklanan digambarkan melalui seting tempat, tempat-tempat adventue seperti gunung,
pantai,dll yang dianggap pas untuk seorang laki-laki.
Pengiklan menggambarkan konsep maskulinitas melalui
yang ditampilkan oleh iklan dengan figur yang dianggap cocok untuk profil
maskulin. Penggambar maskulinitas di dalam iklan juga merupakan logo laki-laki
berprofil tampan pada era sekarang ini. Hal ini dilakukan oleh pengiklan semata-mata
untuk lebih meng ekspansi produk yang di iklankan ke pada khalayak ramai.
4.2.Pengertian
Dan Sifat Dari Maskulinitas
Maskulinitas dikenal sebagai teori dari sosiolog
gender melalui Connel pada tahun 1987. Dia juga berbicara tentang maskulinitas hegemonic
yang menenkankan pada seperangkat asumsi dan keyakinan tentang maskulinitas
yang dapat dimengerti oleh akal sehat. Sebuah perbedaan penting dibuat dari
awal antara maskulinitas hegemonic dan pengertian tentang “peran lak-laki.
Maskulinitas hegemonic juga berkaitan dengan yang didamba-dambakan oleh seorang
laki-laki meliputi “kekuatan dan kekayaan” (mackinnon, :2003 :9)
Pengertian
maskulinitas berasal dari kata (masculine), yang oleh shorter oxford english
dictionary (1973) di definisikan sebagai : keunggulan yang dianggap perlu untuk
dimiliki oleh sekelompok jenis kelamin laki-laki ; (bersifat) jantan, memiliki
kekuatan fisik dan berkuasa. Sedangkan difinisi utama dari laki-laki lebih
sederhana, yaitu memiliki seks yang melahirkan keturunan, atau melakukan fngsi
perkawinan (cornal, 1994 :11)
Bentuk
dari maskulinitas hegemonik pada dasarnya tidak terlalu tergambarkan melalui
kontruksi budaya. Kepribadian ini sebenarnya dari sebagian laki-laki
menunjukkan kepada sedikit korespodensi dan cita-cita kontruksi budaya
maskulin. Berbagai macam bentuk maskulin tersebut disajikan oleh budaya
populer, seperti yang diwakilkan oleh militer, pembisnis dan sebagainya yang
sejenis. Pembentukan hegemoni maskulinitas ini, kemudian dipromosikan melalui
televisi, filim, iklan, olahraga dan bentuk media massa lain yang diteruskan ke
masyarakat luas.
Dari
masa ke masa, konsep maskulinitas telah mengalami perkembangan. Hal tersebut
dikemukakan Beynon dalam Nasir dalam Demartoto (2010: 8), yang membagi konsep
maskulinitas dalam setiap dekade menjadi 4
waktu, yaitu
maskulin sebelum tahun 1980-an, maskulin tahun 1980-an, maskulin tahun 1990,
dan maskulin tahun 2000-an. Dari keempat
kelompok tersebut dapat ditarik sifat-sifat maskulinitas seperti berikut:
1) No Sissy
Stuff: Seorang laki-laki sejati harus menghindari perilaku atau
karakteristik yang berasosiasi dengan perempuan.
2) Be a Big
Wheel: Maskulinitas dapat diukur dari kesuksesan, kekuasaan, dan pengaguman
dari orang lain. Seseorang harus mempunyai kekayaan, ketenaran, dan status yang
sangat lelaki. Atau dalam masyarakat Jawa: seorang laki-laki dikatakan sukses
jika berhasil memiliki garwo (istri), bondo (harta), turonggo (kendaraan),
kukiro (burung peliharaan), dan pusoko (senjata atau kesaktian).
3) Be a Sturdy
Oak. Kelelakian membutuhkan rasionalitas, kekuatan, dan kemandirian.
Seorang laki-laki harus tetap bertindak kalem dalam berbagai situasi, tidak
menunjukkan emosi, dan tidak menunjukkan kelemahannya.
4) Give em Hell:
Laki-laki harus mempunyai aura keberanian dan agresi, serta harus mampu
mengambil risiko walaupun alasan dan rasa takut menginginkan sebaliknya.
5) New man as
nurturer: Laki-laki mempunyai kelembutan sebagai seorang bapak, misalnya,
untuk mengurus anak, melibatkan peran penuh laki-laki dalam arena domestik.
6) New man as
narcissist: Laki-laki menunjukkan maskulinitasnya dengan gaya hidup yuppies
yang flamboyan dan perlente, laki-laki semakin suka memanjakan dirinya
dengan produk-produk komersial properti, mobil, pakaian atau artefak personal
yang membuatnya tampak sukses.
7) Sifat
kelaki-lakian yang macho, kekerasan, dan hooliganism, laki-laki
membangun kehidupannya di sekitar football atau sepak bola dan dunia
minum-minum, juga sex dan hubungan dengan para perempuan, mementingkan leisure
time, bersenang-senang, menikmati hidup bebas seperti apa adanya bersama
teman-temannya, bersenang-senang, menyumpah, menonton sepak bola, minum bir,
dan membuat lelucon-lelucon yang dianggap merendahkan perempuan.
8) Laki-laki
metroseksual mengagungkan fashion, mungkin mirip dengan tipe maskulin yang ada
di tahun 1980-an, bahkan mungkin sama. Laki-laki metroseksual adalah
orang-orang yang peduli dengan gaya hidup yang teratur, menyukai detail, dan
cenderung perfeksionis.
Namun pada dasarnya, pengertian dari
maskulinitas yang sebenarnya tidak ada satupun yang menjelas sosok maskulinitas
yang sesungguhnya. Masing-masing pada yang mendifinisikan maskulinitas terletak
pada “dia memiliki kekuasaan dan dominasi”. Secara ekplisit, pengertian dari
maskulinitas dibuat untuk kepentingan para penguasa. Yang selanjutnya
Asumsi-asumsi maskulinitas tersebut secara cepat berkembang dikehidupan
masyarakat. kemudian secara cepat juga berubah menjadi idiologi maskulinitas
baru
4.3 Maskulinitas
Sebagai Profi Tampan Pada Iklan
Maskulinitas yang sering kali digambarkan oleh iklan
seringkali mengalami perubahan sejalan dengan berkembangnya periklanan.
Penggambaran maskulinitas dikembangkan menjadi sebuah wacana baru yang
dikembangkan atau digambarkan melalui sebuh iklan.
Pada penggambaran maskulinitas, penggambaran
laki-laki dilihat dari penampilan kejantanannya dengan memilki sifat dominan,
berani, dewasa, sosok seorang pemimpin, kuat, rasional, perkasa dll. senada
dengan itu, maskulinitas di dalam penggambaran di dalam iklanpun juga sama
seperti itu. Dimana
sosok-sosok maskulinitas di dalam iklan menggambarkan laki-laki pemberani,
perkasa, otot-otot yang kuat dan lain-lain yang sejenis. Secara langsung ini seolah menggambarkan laki-laki “dikatakan
benar-benar laki jika bentuk ke laki-lakinya hampir sama dengan yang di
gambarkan oleh iklan yang sering menampilkan kemaskulinannya”
Iklan melalui karakter yang coba
dilekatkan dengan modelnya berusaha membuat sebuah kondisi tentang bagaiman
menjadi laki-laki sejati. Maskulinitas laki-laki dalam iklan sering digambarkan
seperti yang telah di singgung diatas ; fisik yang besar, agresif, pemberani,
prestatif, dominan dll. serta dimitoskan sebagai pelindung, kuat, rasional,
jantan dan perkasa. Selain itu iklan juga menunjukan kejantanan dan keperkasaan laki-laki melalui aktifitas-aktifitas yang
dilakukan laki-laki seperti mengangkat beban, berkelahi, berolahraga,
berpetualang, dan lain-lain. aktifitas yang dimaksud adalah hal-hal yang
dilakukan oleh model laki-laki yang pada akhirnya dihubungkan dengan asosiasi
kalau melakukan kegiatan tersebut, maka sosok yang bersangkutan dipersepsikan
sebagai sosok kuat.
Gambaran dari keindahan fisik model laki-laki yang
sering dijumpai pada periklanan yang ada sekarang ini merupakan penggambaran
secara ekplisit mengenai maskulinitas. Bagaimana maskulinitas yang diangkat
oleh media tevisi khususnya iklan “menjadi asusmi dasar bagi sebagian orang
mengenai maskulinitas”. Dimana maskulinitas pada realitas sosial di persepsikan
harus melalui penyesuaian dan penyamaan seperti yang digambarkan oleh media
iklan.
Hal ini sejalan nantinya dengan profil tampan yang
disetarakan dengan maskulinitas. Karena maskulinitas selalu di gambarkan
melalui media-media khusus dengan iklan.
Terperangkaplah orang dengan konsepsi maskulinitas.
yang pada hal ini, antara
maskulinitas dengan profil tampan berjalan seiringan. Maksudnya profil tampan
hadir sesuai dengan konsepsi
maskulinitas. Peran media yang selalu intesn menampilkan gambaran maskulinitas
melalui iklan. Yang membuat seseorang terus menerus-menerus mengaitkan “kamu
maskulin berarti km masuk pada profil tampan”. Secara abstrak media ingin
menjelaskan itu secara perlahan lahan. Berbagai kepentingan di dalam itulah
yang membuat definisi maskulinitas dapat diakui sesuai dengan yang melakukan
difinisi ini “komunitas yang memiliki kuasa dominan” . legalitas masyarakat
hadir mengenai maskulinitas sebagai profil tampan melalui yang ditampilkan oleh
media khususnya iklan.
Maskulinitas dikenal sebagai teori dari sosiolog
gender melalui Connel pada tahun 1987. Dia juga berbicara tentang maskulinitas
hegemonic yang menenkankan pada seperangkat asumsi dan keyakinan tentang
maskulinitas yang dapat dimengerti oleh akal sehat.
Bentuk dari maskulinitas hegemonik pada dasarnya
tidak terlalu tergambarkan melalui kontruksi budaya. Kepribadian ini sebenarnya
dari sebagian laki-laki menunjukkan kepada sedikit korespodensi dan cita-cita
kontruksi budaya maskulin. Berbagai macam bentuk maskulin tersebut disajikan
oleh budaya populer, seperti yang diwakilkan oleh militer, pembisnis dan
sebagainya yang sejenis. Pembentukan hegemoni maskulinitas ini, kemudian
dipromosikan melalui televisi, filim, iklan, olahraga dan bentuk media massa
lain yang diteruskan ke masyarakat luas. Sedangkan
sifat maskulinitas terdiri dari “No Sissy Stuff, New man as narcissist ,Be a Big Wheel, Be
a Sturdy Oak, Give em Hell, New man as nurturer, maco, dan mentroseksual.
pada maskulinitas dan profil tampan pada iklan,
sering kali digambarkan dari keindahan fisik model laki-laki yang sering
dijumpai pada periklanan yang ada sekarang ini. Hal ini merupakan penggambaran
secara ekplisit mengenai maskulinitas. Bagaimana maskulinitas yang diangkat
oleh media tevisi khususnya iklan “menjadi asumsi dasar bagi sebagian orang mengenai
maskulinitas”. Dimana maskulinitas pada realitas sosial di persepsikan harus
melalui penyesuaian dan penyamaan seperti yang digambarkan oleh media iklan.
Hal ini sejalan nantinya dengan profil tampan yang
disetarakan dengan maskulinitas. Karena maskulinitas selalu di gambarkan
melalui media-media khusus dengan iklan.
Terperangkaplah orang dengan
konsepsi maskulinitas. yang pada hal ini, antara maskulinitas dengan profil tampan
berjalan seiringan. Maksudnya profil tampan hadir sesuai dengan konsepsi maskulinitas. Peran media yang
selalu intesn menampilkan gambaran maskulinitas melalui iklan. Yang membuat
seseorang terus menerus-menerus mengaitkan “kamu maskulin berarti km masuk pada
profil tampan”. Secara abstrak media ingin menjelaskan itu secara perlahan
lahan. Berbagai kepentingan di dalam itulah yang membuat definisi maskulinitas
dapat diakui sesuai dengan yang melakukan difinisi ini “komunitas yang memiliki
kuasa dominan” . legalitas masyarakat hadir mengenai maskulinitas sebagai profil
tampan melalui yang ditampilkan oleh media khususnya iklan.
Daftar pustaka
Anggraheny J.2012.“representasi
maskulinitas pada iklan cetak minuman vodka (kajian semiotik).skripsi.program
studi sastra indonesia. Universitas indonesia
Anshori MF.2014. “maskulinitas dalam
iklan televisi(analisi semiotika iklan extra joss blend bukan php versi “verrel
bramasta” menurut roland barthes)”.skripsi.fakultas ilmu sosial dan humaniora.
UIN sunan kalijaga yogyakarta
Widiyaningrum W.2014. “pemaknaan
maskulinitas dalam iklan produk kosmetik untuk laki-laki” .skripsi.
fisip.universitas diponegoro semarang
Pada skripsi “representasi
sensualitas perempuan dalam iklan (analisis semiotika roland barthes terhadap
iklan parfum axe versi heaven on earth di televisi)” hal 30